Minggu, 24 Zulhijjah 1440 / 25 Agustus 2019

Minggu, 24 Zulhijjah 1440 / 25 Agustus 2019

Misi Budaya Vlogger Desa

Kamis 15 Agu 2019 08:11 WIB

Rep: Achmad Syalaby Ichsan/ Red: Irwan Kelana

Potongan video akun YouTube Krisna Euy tentang Kuda Renggong

Potongan video akun YouTube Krisna Euy tentang Kuda Renggong

Foto: YouTube Krisna
Unsur budaya bisa membuat desa terekspos sehingga mudah dipromosikan.

REPUBLIKA.CO.ID, Di rumah bilik bambu berukuran 3x6 meter persegi  itu, Krisna Supriatna sedang mewawancarai Mang Uweng. Seorang seniman Kuda Renggong yang  tinggal di kawasan Cimanggu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Krisna yang mengenakan pakaian serbahitam itu terharu. Mang Uweng yang merupakan juara kompetisi Kuda Renggong harus hidup di tengah keterbatasan. Sang jawara bahkan tinggal seatap bersama  kuda kesayangannya Bongroy. “Saya salut Akang sudah membuat seni ini masih tetap ada dan dinikmati masyarakat,” kata pemilik akun Youtube Krisna Euy itu belum lama ini. 

Mang Uweng menjadi salah satu pelaku kesenian tradisional asli Kabupaten Sumedang. Seni kuda silat dari dari daerah Buahdua, Kabupaten Sumedang, itu diwariskan turun-temurun.  Lewat video berdurasi 13 menit 51 detik, Krisna memperlihatkan bagaimana Mang Uweng melatih kudanya hingga menjadi juara satu tingkat Kabupaten Sumedang. Beragam gerakan atraktif diperlihatkan sosok berambut panjang itu. Bongroy diajak bermain silat hingga berjingkrak. Dalam salah satu gerakan, Bongroy bahkan berdiri dengan dua kaki belakang. Sementara dua kaki depannya hinggap ke bahu Mang Uweng. 

Krisna mendokumentasikan kesenian ini bukan tanpa alasan.  Dia ingin mengenalkan Kuda Renggong ini ke luar wilayah Tatar Sunda dan dunia internasional. Menurut Krisna, masih banyak orang yang belum mengenal kesenian tersebut. Ikhtiarnya pun berbuah. Hingga berita ini ditulis, video berjudul ‘Cara Melatih Kuda Silat Sang Juara’ itu sudah dilihat lebih dari 110 ribu pemirsa.   “Ini salah satu video saya yang paling banyak penontonnya,” kata dia saat berbincang dengan Republika.co.id, beberapa waktu lalu. 

Penonton video itu bukan hanya berasal dari Indonesia. Menurut dia, sepuluh persen dari pemirsa Krisna Euy berasal dari luar negeri. Krisna kian bangga ketika mengetahui jika vlognya mengenai Kuda Renggong dinikmati oleh penonton asal Amerika Serikat. “Untuk pendapatan dari Adsense (program kerja sama iklan di internet dari Google), nilai viewers dari luar negeri itu juga lebih besar dari di Indonesia,” kata dia. 

Krisna bukan pemain baru dalam dunia vlog. Dia mulai mendokumentasikan seni dan budaya lokal Sumedang sejak 2011. Krisna ingin warisan yang amat berharga itu  didokumentasikan. Namun intensitas produksinya belum seperti sekarang. Dia hanya mampu mengunggah video lima hingga tujuh file dalam setahun. Video berdurasi dua hingga lima menit itu diproduksi hanya dengan bermodalkan telepon seluler keluaran brand asal Korea Selatan. “Dulu internetnya kan lemot (lamanya) minta ampun. Durasi dua menit-lima menit itu lama sekali,”ujar dia. 

Hingga 2016, ketika internet sudah mulai bisa dirasakan kecepatannya, semangat Krisna  mulai kembali menggebu. Mantan kontributor salah satu stasiun televisi swasta nasional ini bisa mengunggah rata-rata tujuh video dalam satu hari. “Dulu nongkrong di tempat yang ada wifi gratisnya. Cuma karena sudah banyak yang tahu jadi lemot. Akhirnya sekarang ngandelin kuota,” kata dia. 

Semangat menggebu tidak memperbaiki nasib Krisna. Akunnya masih sepi pengunjung. Dia pun berpikir keras bagaimana agar viewers bisa bertambah. Krisna mulai memperbaiki produk videonya lewat editing yang baik. Dia menggali konten-konten unik dengan cara kreatif. Tak melulu bicara budaya, Krisna juga belajar menggarap konten olahraga dan piknik. 

Dia pun belajar bagaimana agar videonya bisa menghasilkan uang lewat adsense. Alhasil, Krisna bisa meraih Silver Button dari YouTube pada 2018 lalu. Sebuah penghargaan untuk akun YouTube yang sudah bisa meraih lebih dari 100 ribu subscribe. Hingga kini, akun Krisna Euy sudah memiliki 6 juta viewers. Dia pun merasakan buah dari jerihnya. Selain ikut berkontribusi dalam menjaga budaya lokal, Krisna mendapat pundi lumayan. “Bisa buat beli beras dan kuliahin anak,”ujar pria 47 tahun ini.    

photo

Krisna dan Silver Button dari YouTube.

Budaya tak Benda

Sejak Mei 2015, Kuda Renggong sudah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai Warisan Budaya tak Benda Nasional  dari Jawa Barat. Kesenian ini mendapat sertifikat penetapan bernomor 1539908 dari perwakilan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada acara Festival Seni Kuda Renggong se-Kabupaten Sumedang, 15 Mei 2015 lalu.

Kesenian ini pun memperkaya khasanah warisan budaya bangsa. Ada belasan ribu warisan budaya tak benda dengan beragam jenisnya yang telah didata pemerintah pusat dan daerah pada 2018. Pendataan ini merupakan upaya pemerintah untuk melestarikan dan menjaga budaya daerah dari kepunahan.

Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melansir, Indonesia memiliki  4.521 tradisi lisan,  7.444 pengetahuan tradisional, 3.800 permainan rakyat dan 8.244 beragam jenis kesenian. Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid menjelaskan, angka ini masih bisa bertambah. “Tahun 2018 baru 355 kabupaten/kota yang terlibat pemetaan. Sekarang kita masih melakukan pendataan,”kata dia kepada Republika.co.id. 

Dia menjelaskan, perkembangan teknologi digital saat ini amat membantu usaha perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan warisan budaya tak benda. Dia pun mengapresiasi adanya konten kreator yang mengusung isu budaya. Terlebih, warisan budaya diperkenalkan dengan cara yang kreatif dan dengan bahasa yang akrab dengan generasi sekarang. “Dampaknya terhadap usaha pelestarian sangat signifikan,” tambah dia. 

Media sosial memang menyimpan potensi menjanjikan bagi kampanye budaya.  Tingginya konsumsi masyarakat Indonesia terhadap media sosial khususnya YouTube membuktikan itu. Survei dari We Are Social pada 2019 menyebutkan, sebanyak 88 persen dari 150 juta pengguna aktif internet menggunakan layanan YouTube. Mereka berselancar selama rata-rata tiga jam sehari di internet. 

Pengamat media sosial Ismail Fahmi menjelaskan, banyak hal menarik dari desa yang bisa mengundang penonton (viewers) dan pelanggan (subsribers) di media sosial. Alam dan budaya desa bisa menjadi tema yang tidak bisa ditiru oleh konten kreator di perkotaan. Terlebih, ujar pemilik dronemprit ini, masih banyak warisan budaya tak benda yang ada di desa. “Contohnya ada satu tarian di Padang yang belum pernah muncul. Itu kalau diangkat di internet bisa sangat menarik dan menjadi peluang,” kata dia. 

Ismail juga menyarankan agar konten kreator berbasis desa tidak berkompetisi dengan topik kota. Jika  ikut mengadopsi konten seperti make up, games atau properti, mereka justru sulit bersaing. Meski demikian, konten berbasis desa ini pun mesti memiliki nilai spesial. “Intinya harus unik dan kreatif,” kata Ismail. 

Untuk menunjang akses para konten kreator berbasis desa, Ismail pun mendesak pemerataan akses informasi hingga ke desa. Meski sudah banyak desa terpapar sinyal internet,  dia menilai belum banyak akses internet gratis untuk warga desa. Warga desa dinilai perlu mendapat internet cepat dan murah. Menurut dia, titik-titik hotspot gratis itu bisa disediakan di Balai Desa atau Perpustakaan Desa. 

Tidak hanya itu, dia menyarankan adanya pendampingan agar masyarakat desa bisa memproduksi konten yang menarik. Menurut dia, peran ini bisa diisi oleh para  relawan dan pustakawan di pedesaan. “Mereka bisa membantu untuk belajar mengisi konten seperti di Facebook atau WA (WhatsApp),” jelas dia.

Internet masuk desa

Penggunaan internet terus tumbuh setiap tahun. Hasil Survei Nasional Penetrasi Pengguna Internet 2018 dari APJI menyebutkan, ada 171,17 juta jiwa pengguna internet pada 2018. Angka ini tumbuh 10,12 persen ketimbang tahun sebelumnya. 

Masyarakat desa pun sudah mulai melek internet. Lebih dari 60 persen masyarakat pedesaan bisa mengakses internet. Pada umumnya, mereka mengakses dunia maya lewat smartphone. Meningkatnya jumlah internet di pedesaan ternyata tidak membuat akses internet merata. Survei APJI menyebutkan,  pengguna internet masih didominasi oleh Pulau Jawa (55,7 persen). Bandingkan dengan kontribusi dari warga Sulawesi, Maluku, Papua yang hanya mencapai 10,9 persen. Sementara, daerah Kalimantan, hanya 6,6 persen. 

Badan Aksesbilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menyebut masih ada sekitar lima ribu desa yang belum mendapat layanan internet. Untuk itu, Kemkominfo terus berikhtiar untuk mewujudkan program Bebas Sinyal 2020.

photo

Pemasangan kabel serat optik untuk saluran telekomunikasi program Sulawesi, Maluku, Papua Cable System (SMPCS) di Palu, Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu. (Foto: ANTARA)

Dirut Bakti Kemkominfo Anang Latif menjelaskan, pihaknya sudah menyelesaikan pembangunan fisik proyek Palapa Ring. Pekerjaan yang tersisa tinggal integrasi jaringan dan tes stabilitas.“Progres terkini sudah mencapai 99,7 persen,” ujar Anang kepada Republika.co.id, Senin (12/8). 

Anang mengungkapkan, Palapa Ring adalah pekerjaan untuk membangun jaringan tulang punggung (seperti jalan tol) dan berhenti di ibu kota kabupaten. Untuk membuka akses ke pedesaan — khususnya di daerah tertinggal,terpinggir dan terluar (3T) — pemerintah harus bekerja sama dengan operator seluler/internet. “Setidaknya PR terberat sudah diselesaikan pemerintah. Tinggal PR membangun akses ke pedesaan. Operator perlu membantu. Konsep Palapa Ring belum menyelesaikan solusi end to end, tapi harus didukung operator untuk membangun akses,” tambah dia. 

Ketika akses internet sudah terbuka, Anang menyadari pekerjaan belum selesai. Butuh pendampingan agar warga desa bisa memanfaatkan internet sehingga bisa berdampak positif. Menurut Anang, unsur budaya menjadi salah satu konten positif yang bisa membuat desa terekspos sehingga mudah dipromosikan. “Kalau di desa itu sudah ada layanan broadband, tentu vlogger akan lebih sering meng-upload  konten-konten positif dan juga akan mengundang warga desa lainnya menjadi vlogger,” jelas dia. 

Juru bicara Kemkominfo Ferdinandus Setu menjelaskan, ada beberapa program pendampingan Kemkominfo untuk masyarakat desa. Dia mencontohkan, Gerakan Nasional Literasi Digital (Siber Kreasi). Program yang saat ini masih beroperasi di kota dan kabupaten akan digeser ke pedesaan ketika Bebas Sinyal 2020 sudah terealisasi. 

Menurut dia, Kemkominfo juga bermitra dengan relawan tenaga informasi dan komunikasi (TIK) yang tersebar di semua provinsi. Sebanyak enam ribu relawan akan disiapkan untuk mendampingi masyarakat pedesaan sehingga bisa memanfaatkan internet dengan tepat guna. “Mereka akan menjelaskan tools-tools di internet agar bisa digunakan dengan baik,”kata dia. 

Ferdinandus mengungkapkan, tradisi dan budaya di tengah masyarakat pedesaan menjadi salah satu konten positif yang akan dimaksimalkan. Lewat isu tersebut, warga desa bisa menarik para wisatawan dan menjual produk-produk lokal mereka. Meski demikian, dia mengaku ada tantangan psikologis dan sosiologis yang harus dihadapi para relawan. Masih banyak yang mempertanyakan kebermanfaatan internet.  “Ini challenging banget karena kita harus mulai dari nol,” jelas dia. 

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengungkapkan, keberadaan internet dan teknologi digital akan bisa membawa budaya lokal mendunia. Sebagai daerah yang kaya akan budaya, banyak kesenian di daerah itu yang belum dikenal masyarakat, khususnya di luar Sunda. “Kuda Renggong, Tari Tarawangsa, dan kesenian lainnya kita punya,” jelas dia. 

Untuk itu, Dony memiliki cita-cita agar Sumedang menjadi Digital Region. Lewat teknologi informasi seperti internet of thing (IoT) dan artificial inteligence, Dony berharap, ekonomi dan budaya lokal bisa terangkat. Dia mengakui masih ada 55 titik dari 206 desa yang blank spot. Untuk itu, pihaknya bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) sedang melakukan pendataan agar titik-titik tersebut bisa mendapat akses sinyal telekomunikasi dan internet. 

Sumedang juga akan menambah Wifi gratis di puluhan titik pedesaan. Dony menjelaskan, jika tahun ini ada 70 titik Wifi, tahun depan akan ada 150 titik. Pengadaan Wifi gratis itu akan memanfaatkan APBD, CSR perusahaan, hingga BUMN. Dony berharap, semua fasilitas tersebut bisa membuat  masyarakat umum, dunia usaha hingga pengelola wisata bisa menginformasikan setiap ajang seni dan budaya di kabupaten itu. “Yang terdekat 28 Oktober itu ada ajang West Java Paragliding Championship and Culture Festival,” kata dia.  

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA