Minggu, 24 Zulhijjah 1440 / 25 Agustus 2019

Minggu, 24 Zulhijjah 1440 / 25 Agustus 2019

Mengapa Menguap Itu Menular?

Kamis 08 Agu 2019 02:30 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Salah satu siswa menguap di sela upacara bendera pada hari pertama masuk sekolah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 243 Palembang, Sumatera Selatan, Senin (16/7).

Salah satu siswa menguap di sela upacara bendera pada hari pertama masuk sekolah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 243 Palembang, Sumatera Selatan, Senin (16/7).

Foto: Antara/Feny Selly
Ketika melihat ada yang menguap, orang cenderung ikut menguap.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat satu orang menguap, sering kali orang-orang yang ada di sekitarnya juga ikut menguap. Tak heran bila menguap kerap dianggap "menular" oleh banyak orang. Benarkah anggapan ini?

"Penularan" menguap memang merupakan fenomena tubuh yang menarik. Dalam sains, hal seperti ini dianggap sebagai sebuah bentuk fenomena gema atau echophenomena.

Echophenomena merupakan tindakan meniru atau mirroring dari perkataan maupun aksi orang lain secara otomatis. Bukan hanya menguap saja yang bisa :menular". Beberapa kebiasaan lain, seperti menggaruk, menyilangkan kaki, dan bahkan tersenyum, juga bisa menjangkiti orang.

photo

Setya Novanto menguap dalam sidang lanjutan kasus KTP-El di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (11/1/2018).

Studi pada 2010 menunjukkan bahwa empati mulai berkembang saat anak berusia empat tahun. Pada saat inilah, anak mulai rentan terhadap "penularan" menguap atau perilaku mirroring lainnya.

Di sisi lain, orang-orang yang memiliki sifat-sifat psikopat cenderung tidak begitu mudah tertular menguap. Hal ini dapat dilihat pada orang dengan sifat psikopat yang kurang memiliki empati.

Hal yang serupa juga ditemukan pada pemuda atau pemudi dengan autisme. Studi mengungkap bahwa pengidap autisme muda yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi cenderung jarang tertular menguap dibandingkan orang-orang tanpa autisme.

Akan tetapi, studi-studi terkait empati dan "penularan" menguap tidak benar-benar meyakinkan. Berdasakan penilaian lebih lanjut dari beberapa studi, empati bisa mempengaruhi kecenderungan sebagian orang untuk "tertular" menguap, namun tidak memiliki pengaruh berarti pada sebagian orang lainnya.

Seperti dilansir The Swaddle, perempuan cenderung lebih sering mengalami perilaku mirroring dibandingkan laki-laki. Studi juga menemukan bahwa kecenderungan orang untuk ikut menguap saat melihat orang lain menguap berkaitan dengan usia.

Dalam sebuah studi, 82 persen partisipan berusia di bawah 25 tahun menguap setelah menonton video yang menampilkan orang menguap. Kemungkinan ini semakin menurun pada partisipan yang lebih tua. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tua usia seseorang, semakin sedikit perhatian yang ia berikan pada orang-orang di sekitarnya.

Fenomena mirroring atau echophenomena alias meniru perilaku orang lain juga dinilai berkaitan dengan sifat yang didapatkan melalui proses evolusi. Dalam kondisi terancam, hewan memiliki sifat seperti menggaruk wajah atau menguap.

Kebiasaan ini kemudian ditiru oleh hewan lain lain untuk mengenali adanya tanda bahaya. Dengan kata lain, fenomena mirroring ini menjadi sebuah cara komunikasi untuk mengenali bahaya.

"Perilaku ini pasti sangat berguna. Jadi saya sebaiknya melakukan ini juga," ungkap peneliti Zhou Feng Chen dari Wahsington University's Center for the Study of Itch.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA