Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Yuk, Bantu Segarkan Udara Jakarta!

Senin 08 Jul 2019 19:30 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Teknologi Hujan Buatan Atasi Polusi Jakarta. Sejumlah gedung bertingkat terlihat samar karena polusi udara di Jakarta, Selasa (3/7).

Teknologi Hujan Buatan Atasi Polusi Jakarta. Sejumlah gedung bertingkat terlihat samar karena polusi udara di Jakarta, Selasa (3/7).

Foto: Fakhri Hermansyah
Masyarakat bisa turut membantu menyegarkan udara Jakarta dari tekanan polusi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengharapkan agar masyarakat bisa ikut serta dalam mengatasi polusi udara. BPPT mengingatkan bahwa hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama.

"Saya kira semua harus bisa saling bersinergi," kata Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT, Tri Handoko Seto, saat dihubungi oleh Antara, di Jakarta, Senin.

Tri mengungkapkan, langkah jangka panjang tentu sangat dibutuhkan untuk mengatasi polusi udara. Langka jangka pendek akan ditempuh jika polusi sudah terlalu pekat.

"Hujan buatan yang sedang dirancang BPPT adalah salah satu langkah kecil dalam mengatasi polusi udara, namun tetap diperlukan langkah selanjutnya agar masalah tersebut tidak berkelanjutan," ujar Tri.

Menurut Tri, pihaknya sedang berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menyelesaikan masalah polusi udara. Sementara itu, Tri menjelaskan ada sejumlah hal yang bisa dilakukan masyarakat untuk berkontribusi mengurangi polusi udara.

"Ya kalau pakai transportasi umum kan bisa mengurangi penggunaan BBM fosil dan itu salah satu langkah yang berdampak dalam jangka panjang karena bisa terus mereduksi polusi," ujarnya.

Selain itu, Tri mengatakan, memperbanyak ruang terbuka hijau juga menjadi cara yang ampuh dalam memberikan efek positif berjangka panjang bagi udara di Jakarta dan daerah lainnya di Indonesia. Ia mengingatkan, semakin banyak tanaman maka udara akan semakin bagus.

Menurut dia, banyaknya peristiwa kebakaran yang terjadi saat kemarau juga menjadi penyebab terjadi polusi udara sehingga masyarakat diharapkan untuk tidak melakukan aktivitas membakar hutan, lahan, atau apapun yang memicu adanya api yang besar.

"Kalau kita tidak menghentikan itu, kebakaran semakin parah dan kemudian polusi semakin tinggi, kesehatan masyarakat juga terganggu," katanya.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA