Rabu, 21 Zulqaidah 1440 / 24 Juli 2019

Rabu, 21 Zulqaidah 1440 / 24 Juli 2019

Stasiun GAW BMKG Awasi Kebersihan Udara Dunia Nonsetop

Senin 08 Jul 2019 15:35 WIB

Red: Gilang Akbar Prambadi

Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Bukit Kototabang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.

Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Bukit Kototabang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.

Foto: DOK. BMKG
Hanya ada 31 Stasiun GAW di seluruh dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, AGAM -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terus melakukan pemantauan atmosfer yang berkaitan dengan kualitas udara di Indonesia. Melalui stasiun pemantauan atmosfer, Global Atmosphere Watch (GAW), Indonesia mendapatkan kepercayaan dari World Meteorological Organization (WMO) untuk melaksanakan fungsi strategis terkait pengawasan udara.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal mengungkapkan, Stasiun GAW Indonesia yang masuk ke dalam program WMO ini terletak di Bukit Kototabang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat (Sumbar). Menurut dia, Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Bukit Kototabang adalah satu dari 31 GAW di dunia yang menjadi referensi penilaian udara bersih.

"Stasiun GAW Bukit Kototabang menjadi referensi penting bagi dunia karena yang paling representatif dan merupakan jantung wilayah tropis ekuator. Stasiun GAW di wilayah tropis hanya berjumlah lima di lokasi berbesa-beda," ujar Herizal di Jakarta, Senin (8/7).

Herizal mengatakan, Stasiun GAW Bukit Kototabang memiliki sejumlah tugas pokok dan fungsi. Tugas dan fungsi tersebut adalah pengamatan, pengumpulan data, penyebaran, analisis, dan pengolahan. Kemudian, memberikan pelayanan informasi mengenai komposisi kimia atmosfer, gas rumah kaca dan parameter fisis atmosfer lainnya.

"Dikarenakan menjadi bagian program GAW WMO, operasional dan data GAW Bukit Kototabang secara rutin mendapatkan audit dan kalibrasi oleh lembaga audit terstandar internasional yang direkomendasi WMO," ujarnya.

Dia menambahkan, seperti halnya stasiun pengamatan BMKG lainnya, sesuai Undang-undang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika No.31 tahun 2009, Stasiun GAW pun melakukan pengamatan dan penyebaran informasi setiap hari tanpa henti. Menurut dia, pengamatan nonsetop harus dilakukan karena data dan informasi terkait kualitas udara sangat diperlukan di berbagai sektor.

"Seperti, lingkungan hidup dan kesehatan untuk mengambil langkah-langkah pengurangan polusi udara yang berdampak terhadap kesehatan dan lingkungan hidup, selain tentunya data utama berupa konsentrasi gas rumah kaca sebagai dasar kebijakan mitigasi perubahan iklim dunia," ujar Herizal.

Tentang GAW

Sejarah GAW dimulai pada tahun 1950, WMO secara resmi berinisiatif memulai program pengamatan yang dapat menghasilkan gambaran komposisi kimia atmosfer dan aspek meteorologi yang berkaitan dengan polusi udara secara global.

WMO memulai langkah awal dengan melakukan koordinasi internasional terkait pengukuran komposisi kimia pada tahun 1957. Ini menghasilkan kesepakatan berupa Global Ozone Observing System (GO3OS)/ sistem pengamatan lapisan ozon secara global yang bertujuan mengatur standar pengamatan ozon. "Dari sinilah, ditemukan penurunan konsentrasi ozon dilapisan stratosfer, terutama di wilayah kutub ketika itu," kata Herizal.

photo

Petugas melakukan pemantauan atmosfer bumi lewat peralatan di SPAG Bukit Kototabang. DOK. BMKG

Pada akhir tahun 1960an WMO mendirikan Background Air Pollution Monitoring Network (BAPMoN) yang fokus pada pengukuran komposisi kimia air hujan, aerosol dan karbon dioksida (CO2). Program BAPMoN menghasilkan informasi yang sangat penting bagi dunia yaitu telah meningkatnya gas rumah kaca (GRK) di atmofer bumi.

Pada tahun 1970an beberapa isu mengenai atmosfer mulai dibahas secara internasional dan menjadi topik terhangat di dunia. Dimulai dari isu mengenai ancaman chlorofluorocarbons (CFCs) terhadap lapisan ozon, pengasaman danau dan hutan di sebagian besar Amerika Utara dan Eropa yang disebabkan oleh berubahnya SO2 (sulfur dioksida) menjadi asam sulfat (SO4) di atmosfer.

"Kemudian yang ketiga dan paling fenomenal adalah isu kemungkinan terjadinya pemanasan global yang disebabkan oleh meningkatnya gas rumah kaca di atmosfer," tambah dia.

 

Isu-isu tersebut menjadi dasar dan pijakan pokok perjanjian internasional. Kebijakan dan mitigasi dari perjanjian-perjanjian tersebut bergantung kepada WMO atmospheric composition monitoring programme (program pengamatan komposisi atmosfer). Berdasarkan hal tersebut pada tahun 1989,  BAPMoN and GO3OS dikonsolidasikan ke dalam suatu program  yaitu , WMO  programme. "GAW merupakan salah satu program WMO yang mengikat seluruh negara anggota WMO yang saat ini berjumlah 187 Negara," ujar dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA