Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Alasan tak Gunakan Baju Hijau di Pantai

Kamis 13 Jun 2019 19:05 WIB

Red: Esthi Maharani

Waspada Ombak Besar Pantai Selatan. Wisatawan berfoto dengan deburan ombak di Pantai Glagah, Kulonprogo, Yogyakarta, Rabu (12/6/2019).

Waspada Ombak Besar Pantai Selatan. Wisatawan berfoto dengan deburan ombak di Pantai Glagah, Kulonprogo, Yogyakarta, Rabu (12/6/2019).

Foto: Republika/ Wihdan
Jika menggunakan warna hijau akan menyatu dengan warna air laut

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti madya Bidang Oseanografi Terapan Pusat Riset Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Widodo Pranowo, menyarankan agar masyarakat yang berlibur ke pantai untuk tidak menggunakan baju berwarna hijau. Menurutnya, ada alasan logis dibalik larangan tersebut.

''Jika menggunakan warna hijau akan menyatu dengan warna air laut sehingga akan lebih sulit dicari ketika terseret arus atau tenggelam. Ini berbeda jika baju yang digunakan berwarna lain,'' katanya, Kamis (13/6).

Widodo mengatakan ada banyak kasus wisatawan tenggelam di beberapa lokasi di pesisir selatan Jawa terjadi saat libur Lebaran 2019. Masyarakat memang harus lebih waspada karena pada Bulan Juni, menjadi awal dari musim angin tenggara, di mana angin dingin dan kering dari Australia bergerak menuju Indonesia ke arah Barat Laut yang memunculkan arus yang mematikan yang biasa disebut Rest in Peace (RIP) Current.

Angin yang bergerak dari benua kanguru tersebut memunculkan dua fenomena berupa gelombang menjalar mengarah tegak lurus ke pantai dan umbulan massa air laut dari lapisan dalam menuju ke lapisan permukaan yang lebih dikenal sebagai upwelling.

''Gelombang yang datang tegak lurus menuju pantai selatan Jawa ketika menghantam dua gundukan pasir atau karang yang mengapit sebuah alur laut yang lebih dalam akan menghasilkan arus balik mengarah ke laut dengan kecepatan sekitar 20 meter per detik,'' kata Widodo.

Arus tersebut dapat menggerus pasir yang sedang dipijak wisatawan di bibir pantai lalu menyeretnya hingga 100 meter ke lepas pantai hanya dalam hitungan lima detik. Widodo mengatakan saat wisatawan tersebut panik lalu mencoba berenang tegak lurus melawan arus kembali menuju ke pantai, niscaya akan kehabisan energi dan kehabisan napas, sehingga kemungkinan tenggelam akan lebih besar. Kekuatan RIP Current bervariasi, manakala kekuatannya cukup tinggi maka akan semakin menyeret korban begitu jauh ke lepas pantai.

Kasus yang terjadi adalah korban baru muncul ditemukan beberapa jam hingga hari kemudian. Beberapa kasus bahkan korban tidak ditemukan jasadnya sama sekali, kemungkinan tersangkut oleh cerukan karang di dasar laut, sehingga jasad tidak bisa muncul kembali ke permukaan ketika RIP Current melemah.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA