Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Peneliti Ungkap Alasan Difabel Netra Punya Pendengaran Tajam

Rabu 24 Apr 2019 05:20 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Nur Aini

Difabel netra

Difabel netra

Peneliti memeriksa aktivitas otak difabel netra di korteks pendengaran.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Tidak semua orang mendengar hal yang sama. Sejumlah penelitian telah menunjukkan orang yang mengalami kebutaan sejak awal kehidupannya dapat mengalami peningkatan kekuatan pendengaran dibandingkan dengan orang yang melihat.

Baca Juga

Tetapi percobaan baru tampaknya telah mengungkapkan dasar saraf dari fenomena ini untuk pertama kalinya. Ilmuwan saraf dari University of Washington Ione Fine mengatakan ada gagasan orang difabel netra lebih tajam dalam pendengaran, karena mereka harus membuat jalan mereka di dunia tanpa informasi visual.

“Kami ingin mengeksplorasi bagaimana ini terjadi di otak,” ujar Fine, seperti yang dilansir dari Science Alert, Selasa (23/4).

Untuk itu, Fine dan timnya menggunakan pencitraan functional magnetic resonance (fMRI) untuk memeriksa aktivitas di korteks pendengaran pada orang difabel netra dan kelompok pengawasan dari orang yang terlihat.

Dalam kohort mereka, empat peserta difabel netra memiliki kebutaan onset dini dan lima peserta memiliki kondisi anophthalmia, di mana mata gagal berkembang. Dalam percobaan, para peserta dimainkan sejumlah nada murni beresonansi pada frekuensi yang berbeda, sementara perangkat fMRI merekam aktivitas otak mereka. Kelompok pengawasan menjalani prosedur yang sama.

Ketika para peneliti menganalisis hasilnya, mereka menemukan orang-orang difabel netra dalam percobaan cenderung memproses nada dalam bandwith yang lebih sempit dan lebih akurat daripada orang-orang yang melihat. Itu menunjukkan perasaan mereka dalam frekuensi penyeteman di korteks pendengaran lebih baik dan halus daripada kelompok yang memiliki penglihatan.

“Studi kami menunjukkan otak difabel netra lebih mampu mewakili frekuensi,” kata salah satu tim, mahasiswa pascasarjanan psikologi Kelly Chang.

Chang mengungkapkan orang yang memiliki penglihatan, memiliki representasi suara yang akurat tidak begitu penting. Sebab, mereka memiliki penglihatan untuk membantu mereka mengenali objek, sementara individu difabel netra hanya memiliki informasi pendengaran.

Itu memberi gambaran tentang perubahan di otak yang menjelaskan mengapa difabel netra lebih baik dalam memilih dan mengidentifikasi suara di lingkungan .

“Perlu dicatat kita hanya berurusan dengan sekelompok kecil peserta di sini, yang selalu perlu kita ingat ketika mempertimbangkan temuan penelitian,” ujar katanya.

Namun, tim tetap menunjukkan hasil mereka sebagai bukti pertama untuk perubahan sistematis saraf dalam korteks pendengaran manusia sebagai akibat kebutaan. Masih belum diketahui bagaimana korteks pendengaran mengembangkan bentuk neuroplastisitas itu.

Tetapi, dalam makalah mereka, tim berspekulasi itu bisa menjadi adaptasi perkembangan terhadap kebutaan dini, efek berkelanjutan dari kekurangan visual, dan atau tuntutan pendengaran diferensial yang dihasilkan dari menjadi difabel netra.  Penelitian di masa depan dapat membantu lebih dekat memahami dasar dari adaptasi pendengaran otak yang diamati lebih rinci. Saat ini setidaknya, para peneliti memiliki target baru untuk diperiksa, bahkan jika masih banyak yang tersisa untuk dipelajari.

“Pada individu difabel netra, lebih banyak informasi perlu diekstraksi dari suara dan wilayah ini tampaknya mengembangkan kapasitas yang meningkat sebagai hasilnya,” kata Fine.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA