Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Facebook Hapus 200 Halaman Akun Palsu di Filipina

Sabtu 30 Mar 2019 12:54 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani

Facebook

Facebook

Foto: EPA
Facebook mendeteksi dan menghentikan aktivitas menyesatkan

REPUBLIKA.CO.ID, SAN FRANCISCO -- Facebook mengatakan mereka menghapus 200 halaman, kelompok dan akun palsu. Facebook melaporkan akun-akun tersebut memiliki hubungan dengan mantan Manager Media Sosial Presiden Rodrigo Duterte, Nic Gabunada.

"Hari ini kami menghapus 200 halaman, kelompok, dan akun palsu yang terlibat dalam koordinasi perilaku tak otentik di Facebook dan Instagram di Filipina, yang menyesatkan orang lain tentang siapa mereka dan apa yang mereka lakukan," tulis Kepala Kebijakan Keamanan Siber Facebook, Nathaniel Gleicher dalam siaran persnya, Sabtu (30/3).

Gleicher mengatakan secara rutin Facebook mendeteksi dan menghentikan aktivitas menyesatkan. Karena, kata Gleicher, Facebook tidak bersedia layanan mereka digunakan untuk memanipulasi orang lain. Gleicher menambahkan Facebook menutup halaman dan akun berdasarkan perilaku mereka bukan dari konten yang mereka unggah.

"Dalam kasus ini orang-orang yang berada dibalik aktivitas koordinasi dengan orang lain dan menggunakan akun palsu untuk menutupi diri mereka sendiri, dan ini menjadi dasar tindakan kami," tambah Gleicher.

Gleicher berjanji akan kembali memberikan kabar terbaru tentang rincian hal ini atau ada fakta terbaru tentangnya. Gleicher mengatakan orang yang berada dibalik aktivitas menyesatkan ini menggunakan akun asli dan palsu untuk menyebarkan konten di berbagai halaman dan kelompok.

Gleicher mengatakan para pelaku kerap mengunggah berita-berita lokal dan politik. Termasuk topik seperti pemilu yang akan datang, pandangan dan perkembangan kandidat, mengajukan tuduhan palsu terhadap lawan politik dan peristiwa kontroversial yang kabarnya terjadi selama pemerintahan sebelumnya.

"Meskipun orang-orang di balik kegiatan ini berusaha menyembunyikan identitas mereka, penyelidikan kami menemukan kegiatan ini terkait dengan jaringan yang organisir oleh Nic Gabunada," tambah Gleicher.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA