Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Studi: Manula Penyebar Utama Berita Bohong di Facebook

Kamis 10 Jan 2019 15:38 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Pengguna Facebook di berbagai negara

Pengguna Facebook di berbagai negara

Foto: GulfNews
Studi dilakukan pada 2016 kepada 1300 pengguna semasa Pemilihan Presiden

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Usia seseorang bisa menentukan bagaimana kecenderugannya dalam menyebarkan berita bohong di Facebook. Hal tersebut dibuktikan oleh sejumlah peneliti melalui sebuah studi yang telah diterbitkan di Science Advances.  

Dilansir CNET, pengguna Facebook yang berusia lebih dari 65 tahun membagikan tujuh kali berita bohong sepanjang musim pemilihan umum presiden AS 2016. Jumlah tersebut jauh lebih besar dari pada berita yang dibagikan pengguna berusia 18 tahun hingga 29 tahun.

Studi juga menemukan bahwa kalangan konservatif lebih banyak menyebarkan berita bohong dibandingkan dengan kalangan liberal maupun moderat. Berbagai perusahaan media sosial, termasuk Facebook, telah berupaya memberantas penyebaran berita bohong ini sejak pemilu 2016.

Tidak hanya pemilu, media sosial juga sering dijadikan target penyebarab berita bohong antar negara yang sedang berkonflik. Facebook menemukan bukti bahwa Rusia menggunakan jaringan media sosial untuk menaburkan benih perselisihan diantara warga AS dengan menyebarkan berita bohong.

Sebagai bagian dari penelitian, pada 2016 sebanyak 1300 pengguna Facebook membagikan unggahan media sosial mereka yang dilengkapi informasi dari peneliti. Terbukti, lebih dari 90 persen pengguna tidak menyebarkan berita bohong kepada teman-teman mereka selama musim pemilu. 

Teori yang menyebutkan bahwa pengguna Facebook dari kalangan orang tua memiliki tingkat literasi media digital yang rendah tampaknya benar. Mereka seharusnya bisa menentukan apakah harus percaya sepenuhnya pada apa yang dibaca secara daring. 

Kalangan Konservatif dan Republik juga membagikan lebih banyak berita bohong dibandingkan Demokrat dan liberal. Sekitar 18 persen kalangan Republika membagikan tautan situs berita bohong. Sementara kalangan Demokrat hanya 3.5 persen. Beberapa situs tersebut yaitu Denver Guardian, True Pundit dan Conservative Daily Post.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA