Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

5 Hoaks Meresahkan Publik Selama November

Senin 10 Des 2018 17:05 WIB

Rep: Amri Amrullah/ Red: Ratna Puspita

Hoax. Ilustrasi

Hoax. Ilustrasi

Foto: Indianatimes
Lima hoaks ini paling viral dan banyak dibicarakan masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) merilis lima hoaks atau disinformasi yang meresahkan masyarakat selama November lalu. Lima hoaks ini paling viral dan banyak dibicarakan masyarakat.

“Berdasarkan hasil analisa Tim Anti Hoaks, Dirjen Aplikasi Informatika Kemkominfo, selama bulan November 2018 setidaknya terdapat 5 isu yang dianggap hoaks. Kelima isu tersebut kemudian dianalisa dan dikumpulkan tim dari Kominfo di Subdit Pengendalian Konten Internet,” kata Plt Kepala Biro Humas Kemkominfo RI Ferdinandus Setu Fernandus dalam pernyataan tertulisnya, Senin (10/12).

Pertama, hasil rekaman kotak hitam atau blackbox Lion Air JT610. Kecelakaan jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan laut Karawang, Jawa Barat, pada Senin (29/10) menjadi isu yang diperbincangkan di berbagai ruang publik dan media sosial.

Bersamaan dengan itu, bermunculan berbagai hoaks atau disinformasi dalam bentuk tulisan, foto, dan video mengenai peristiwa jatuhnya pesawat tersebut. “Kabar hoaks ini menimbulkan banyak spekulasi dan keresahan di kalangan masyarakat, mengingat banyaknya jumlah korban pada tragedi maut tersebut,” kata Ferdinandus.

Kedua, hoaks pelaku penculikan anak di Jalan Kran, Kemayoran, Jakarta Pusat. Maraknya penculikan anak, yang ternyata hoaks, menjadi perbincangan warganet pada Oktober dan November lalu.

Ferdinandus mengatakan hoaks terkait penculikan anak selama November, di antaranya penangkapan pelaku penculikan anak di jalan Kran Kemayoran, Jakarta. 

Ketiga, selain isu penculikan atau pelaku penculikan, warganet juga memperbincangkan soal isu penemuan jasad anak-anak korban penculikan untuk diambil organ tubuhnya dan diperjualbelikan. Ratusan jasad anak-anak korban penculikan ini menjadi hoaks ketiga yang meresahkan masyarakat.

Ferdinandus mengatakan hoaks ini berupa foto yang diberi keterangan sebagai ratusan anak korban penculikan. “Kabar yang beredar bahwa penculikan anak dengan tujuan untuk diambil organ tubuhnya ini membuat masyarakat, khususnya orang tua, resah dan merasa anak-anaknya terancam atau tidak aman,” kata dia.

Keempat, yakni kartu nikah dengan empat foto isteri. Hoaks ini beredar setelah Kementrian Agama resmi menerbitkan kartu nikah bagi pasangan suami-isteri.

Di media sosial, beredar gambar kartu nikah berwarna kuning dengan logo Kementerian Agama di bagian atasnya. “Di dalam kartu tersebut, tercantum empat kolom isteri dan satu kolom suami lengkap dengan kolom nama dan tanggal pernikahan di masing-masing kolom isteri,” kata Ferdinandus. 

Sebagian warganet menganggap kartu nikah ini sebagai lelucon, tetapi tidak sedikit yang berspekulasi bahwa kartu tersebut adalah kartu legalitas untuk berpoligami. Padahal, gambar kartu tersebut hoaks.

Kelima, hoaks soal teori konspirasi imunisasi anak. Imunisasi tak jarang mendapatkan penolakan dari beberapa kelompok masyarakat karena banyaknya informasi yang tidak benar dan hoaks.

Salah satu hoaks tentang vaksin imunisasi yang cukup viral, yakni konspirasi penyebaran virus atau penyakit melalui vaksin yang disuntikkan ke dalam tubuh manusia.. Dalam disinformasi itu, vaksin tersebut dikabarkan mengandung sel-sel hewan, virus, bakteri, darah, dan nanah. 

“Isu yang tidak benar ini tentu menimbulkan dampak yang luar biasa terhadap stigma masyarakat Indonesia tentang Imunisasi. Imbasnya masyarakat menjadi ragu bahkan takut untuk memberikan imunisasi pada anak-anak mereka,” kata dia. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA