Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

3 Fakta Menarik di Balik Fenomena Ubur-Ubur Ancol

Sabtu 20 Oct 2018 17:05 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Dwi Murdaningsih

Beberapa jenis ubur-ubur di Seaworld Ancol.

Beberapa jenis ubur-ubur di Seaworld Ancol.

Foto: Republika/Adysha Citra Ramadani
Ubur-ubur merupakan zooplankton yang 95 persen tubuhnya terdiri dari air.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belum lama ini, masyarakat cukup dihebohkan dengan kemunculan ubur-ubur dalam jumlah cukup banyak di Pantai Ancol. Tim peneliti plankton dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) masih menunggu kelengkapan hasil analisa laboratorium dan simulasi atau model iklim untuk mengetahui penyebab di balik kemunculan ubur-ubur di perairan Pantai Ancol.

Meski begitu, tim peneliti plankton LIPI mengungkapkan beberapa fakta menarik seputar ubur-ubur yang muncul di Pantai Ancol ini dalam diskusi edukatif di Seaworld Ancol, Sabtu (20/10). Berikut ini adalah  fakta menarik tersebut.

photo
Beberapa jenis ubur-ubur di Seaworld Ancol.

Ubur-Ubur Mild Stinger
Peneliti Plankton Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Arief Rachman mengatakan ada dua jenis ubur-ubur yang muncul di Pantai Ancol. Kedua jenis ubur-ubur tersebut adalah ubur-ubur Phyllorhiza punctata atau spotted jellyfish dan ubur-ubur Catostylus mosaicus atau the jelly blubber. Kedua jenis ubur-ubur ini berasal dari kelas Scyphozoa.

Arief mengatakan kedua jenis ubur-ubur ini termasuk ke dalam kategori mild stringer. Artinya, efek sengatan yang diberikan oleh kedua jenis ubur-ubur ini sangat lemah atau ringan. Umumnya, sengatan kedua jenis ubur-ubur ini tidak memiliki efek samping selain kulit merah dan gatal.

Bisa 'Menyengat' Meski Sudah Mati
Ubur-ubur merupakan zooplankton yang 95 persen tubuhnya terdiri dari air. Meski begitu, ubur-ubur bisa melindungi diri dari ancaman beragam predator karena memiliki nematocyst sebagai pertahanan diri. Nematocyst merupakan sel penyengat di dalam sel khusus bernama cnidocytes yang terletak di tentakel ubur-ubur.

Arief mengatakan nematocyst teraktivasi secara mekanik, misalnya melalui sentuhan. Ubur-ubur tidak memiliki kendali mengenai apa yang ingin mereka sengat atau tidak sengat. Semua yang menyentuh tentakel ubur-ubur secara otomatis akan tersengat.

Hal ini tetap berlaku meski ubur-ubur sudah mati. Arief mengatakan nematocyst masih tertinggal pada ubur-ubur yang sudah mati. Jika tersentuh, nematocyst yang tertinggal pada tentakel ubur-ubur mati akan tetap memberi respon sengatan.

"Yang paling bagus ketika berhadapan dengan ubur-ubur, dilihatin saja, jangan disentuh-sentuh. Walaupun mati, sel penyengatnya aktif," papar Arief.

Kecepatan Super Sengatan
Sengatan ubur-ubur merupakan bagian dari sistem pertahanan diri mereka di alam liar. Saat tersentuh, ubur-ubur akan segera menembakkan sengatan kepada penyentuhnya seraya mengeluarkan senyawa racun. Arief mengatakan kecepatan ubur-ubur dalam menembakkan sengatan ini mencapai 700 nanosecond.

"Nggak mungkin orang sempat bereaksi (menghindari sengatan)," jelas Arief.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA