Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Kehebohan Super Blue Blood Moon Ganggu Ilmuwan Ini

Rabu 31 Jan 2018 16:28 WIB

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Winda Destiana Putri

Super Blue Blood Moon. Ilustrasi

Super Blue Blood Moon. Ilustrasi

Foto: CNET
Supermoon dapat terlihat beberapa kali dalam satu tahun kalender masehi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- David Kipping menjadi salah satu dari sekian banyak ilmuwan yang merasa terganggu dengan hebohnya fenomena super blue blood moon yang akan terlihat hari ini. Ilmuwan dari Universitas Colombia ini berusaha keras untuk menegaskan tidak ada yang perlu dihebohkan dari fenomena tersebut.

Dia membuat video berisi penjelasan bahwa sebenarnya fenomena tersebut adalah fenomena rutin yanng terjadi saat bersamaan. Di mana jika fenomena bulan sendiri terjadi seperti biasa. Ringkasnya, gerhana bulan terjadi ketika matahari, bumi, dan bulan dalam posisi segaris yang disebut astronom sebagai syzygy dan terjadi selama dua kali dalam sebulan, sekali di bulan baru dan sekali pada fase bulan purnama.
 
Saat bulan berada di titik terdekatnya dengan bumi atau perigee, orang dapat melihat supermoon atau syzygy perigee. Supermoon dapat terlihat beberapa kali dalam satu tahun kalender masehi. Meski tampil lebih besar dan terang, De Grasse Tyson berpendapat bahwa ini sama halnya membandingkan pizza 16 inci dengan pizza 15 inci.
 
Kipping beranggapan bahwa hebohnya supermoon ini karena penyalahgunaan awalan "super" yang biasanya digunakan astronom untuk hal-hal mengagumkan seperti supernova. Disamping itu, dia memiliki keraguan dalam kata "blood" pada blood moon yang mengacu pada warna darah yang akan dipancarkan bulan karena gerhana bulan yang bertepatan dengan syzygy perigee.
 
Di sisi lain, Kipping memaparkan latar belakang penggunaan blue moon sebagai istilah bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender. Dia menunjukkan bahwa definisi bulan tersebut mengacu pada bulan purnama ketiga musim astronomi dan tidak ada hubungannya dengan bulan kalender. Karena fenomena pada 31 Januari mendatang bukan bulan purnama ketiga musim ini. Konsep lain dari blue moon mengacu pada "Mega Saturday" yakni sebutan bagi akhir bulan yang bertepatan dengan hari Sabtu sehingga orang memiliki waktu libur lebih lama.
 
Menjelang akhir video, Kipping meminta saran penonton apa dia berhak tersinggung atas kehebohan media seputar super blue blood moon tersebut. Seperti dilansir dari laman CNET, Kipping menunjukkan bahwa nama yang digunakan dalam fenomena bulan 31 Januari harusnya bernama "Perigee Syzygy Lunar Eclipse."
 
Kipping menganggap bahwa penggunaan istilah untuk fenomena tersebut kurang tepat, namun bagi orang awam, nama tersebut menjadi daya tarik sendiri. Nama super blue blood moon membawa orang untuk bersama-sama menyaksikan tiga fenomena bulan yang terjadi bersamaan ini.

Baca juga: Jokowi tak Ingin Melewatkan Peristiwa Super Blue Blood Moon

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA