Thursday, 6 Jumadil Akhir 1439 / 22 February 2018

Thursday, 6 Jumadil Akhir 1439 / 22 February 2018

WHO Peringatkan Ancaman Pandemik Global

Kamis 15 February 2018 01:24 WIB

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Winda Destiana Putri

ncaman pandemi berasal dari sikap apatis manusia atas keselamatan diri sendiri.

ncaman pandemi berasal dari sikap apatis manusia atas keselamatan diri sendiri.

Foto: Scienealert
ncaman pandemi berasal dari sikap apatis manusia atas keselamatan diri sendiri.

REPUBLIKA.CO.ID, Pandemik global dapat mengancam jiwa manusia yang ada di seluruh dunia. Dimana dalam bencana besar itu, satu penyakit dapat menyebabkan 100 juta orang temas. Mungkin terdengan mengerikan, namun nyatanya itu terjadi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Jenderal /World Health Orhanization/ (WHO), Tedros Adhanom. Saat berbicarra di acara /World Government Summit/ di Dubai, keadaan tersebut tidak terlihat bagus. "Ini bukan skenario mimpi buruk masa depan. Inilah yang terjadi tepat 100 tahun lalu saat wabah flu Spanyol," katanya seperti dilansir dalam laman Science Alert.

 

Dia mneuturkan bahwa dunia rentan atas wabah penyakit. "Epidemi yang menghancurkan dapat dimulai dari negara manapun, kapanppun dan membunuh jutaan orang karena kita belum siap," lanjutnya.

 

Lalu apa penyebab kerentanan besar yang dimaksud? Kesulitan dalam pencegahan Ebola? Meningkatnya rabies pada populasi hewan? Kasus HIV dan AIDS? Bukan. Menurut Tedros, ancaman pandemi berasal dari sikap apatis manusia atas keselamatan diri sendiri.

 

"Ketiadaan cakupan kesehatan universal adalah ancaman terbesar bagi kesehatan global," katanya. Dia menunjukkan kenyataan bahwa kecakupan kesehatan dunia belum menjangkau seluruh dunia. Masish ada 3,5 miliar orang masih kekurangan akses terhadap layanan kesehatan.

 

Di sisi lain, terdapat 100 juta orang dalam kemiskinan ekstrem karena tidak adanya biaya untuk membayar perawatan dari kantong mereka sendiri. Pada akhirnya, mereka tidak pergi ke dokter dan tidak mencari pengobatan hingga akhirnya meninggal sia-sia.

 

"Sinyal terawal dari sebuah wabah yang terlewatkan," ungkapnya.

 

Saat ini di Amerika mengalami musim demam terparah dimana Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengumumkan mereka akan mengurangi program pencegahan endemi hingga 80 persen. "Kita sering melihat kesehatan sebagai biaya yang harus dikeluarkan dan bukan investasi untuk dipupuk," lanjutnya.

 

Tedros mengakui bahwa tidak ada jaminan suatu hari akan tercipta dunia yang benar-benar bebas pandemik. Tentu kendali harus tetap dipegang dalam jangkauan manusia.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA