Sabtu, 11 Ramadhan 1439 / 26 Mei 2018

Sabtu, 11 Ramadhan 1439 / 26 Mei 2018

Gumpalan Raksasa Magma Ditemukan di Gunung Berapi Bawah Laut

Ahad 11 Februari 2018 08:49 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Dwi Murdaningsih

Gumpalan magma (ilustrasi).

Gumpalan magma (ilustrasi).

Foto: shutterstock
Kubah berisi bebatuan padat dan tidak menimbulkan letusan yang akan datang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah kaldera raksasa bawah laut yang berada tidak jauh dari negara Jepang, menampung sebuah kubah lava yang terbuat dari 8 triliun galon batu cair atau lava. Lebar kubah tersebut mencapai 6,9 mil atau sekitar 10 kilometer dan tingginya mencapai 1.968 kaki atau sekitar 600 meter.

Saat ini, kubah tersebut berisi bebatuan padat dan tidak menimbulkan letusan yang akan datang. Sebuah studi baru menyebutkan, hal tersebut menambah penemuan baru pada sejarah Kaldera Kikai, sebuah kubah besar yang terbentuk saat letusan super vulkanik besar-besaran yang terjadi sekitar 6.300 atau 7.300 tahun yang lalu.

Letusan tersebut mengirimkan aliran piroklastik yang dipanaskan sejauh 50 mil atau 80 km, melintasi laut dan menyebarkan abu sejauh 620 mil atau 1.000 km. Hal tersebut dikatakan oleh Yoshi Tatsumi, yang menulis sebuah studi baru mengenai sistem kerja kaldera yang dipublikasikan pada Jumat (9/2), dalam jurnal Scientific Reports.

Seorang ahli vulkanologi di Universitas Denison, Erik Klemetti yang juga terlibat dalam penelitian tersebut mengatakan, sistem tersebut masih aktif, dan ini merupakan tempat yang berisiko tinggi untuk aktivitas erupsi. Gunung berapi tersebut juga meledakkan puncaknya pada letusan super sekitar 95 ribu tahun yang lalu dan juga sekitar 140 ribu tahun yang lalu. Hal tersebut yang menyebabkan kadang adanya hujan abu dan uap bahkan di zaman modern, dengan terjadinya letusan terakhir yang tercatat antara tahun 2013 dan 2014.

Vulkanisme Tersembunyi

Kaldera yang posisinya tersembunyi di bawah air, sulit untuk mengawasi aktivitasnya. Tatsumi dan rekan-rekannya melakukan beberapa penyelaman jarak jauh dengan kendaraan penyelaman ke lantai kaldera. Tepatnya di sebelah selatan Pulau Kyushu di kepulauan Jepang.

Mereka menggunakan sonar untuk memetakan lantai kaldera dan menembakkan muatan peledak kecil ke dasar laut untuk menciptakan gelombang seismik yang bisa mereka catat dan gunakan untuk menggambarkan permukaan bawah tanah. Tim tersebut juga mengumpulkan data mengenai kimia yang ada dalam airnya dan mengambil sampel bebatuan dari kubah yang menjulang di bagian tengah kaldera.

Temuan ini membuktikan bahwa kubah tersebut sebenarnya terbuat dari lava, khususnya bentuk lava yang disebut riolit, dengan jumlah lavanya sekitar 8 triliun galon atau 32 kilometer kubik dari seluruh kubah. Klemetti mengatakan, kubah tersebut kemungkinan dapat terbentuk kapan saja sejak letusan terakhir. Sehingga, belum jelas kapan kubah tersebut terbentuk.

Namun, Tatsumi dan rekan-rekannya menemukan bahwa komposisi kimianya berbeda dari lava yang dikeluarkan dari kaldera pada letusan super terakhir. Temuan ini menunjukkan bahwa sistem magma baru terbentuk setelah letusan.

"Aktivitas pasca-kaldera, setidaknya pada kaldera ini, dianggap sebagai tahap persiapan menuju letusan super berikutnya, bukan sebagai tahap menenangkan dari letusan sebelumnya," kata Tatsumi seperti yang dilansir di Live Science.

Sistem Yang Berkembang

Dari penemuan tersebut, peneliti mengatakan, tidak berarti bahwa letusan baru akan terjadi kembali dalam waktu dekat. Namun sistem vulkanik yang mendasari kaldera telah berubah dan berkembang selama ribuan tahun.

Menarik untuk dilihat bahwa kubah lava tersebut ternyata berasal dari bagian yang berbeda dari sistem magmatik (ruang bawah tanah batuan cair) daripada lava yang berasal dari letusan super terakhir. Cara terbaik untuk memastikan kubah memiliki asal yang terpisah adalah dengan menguji mineral di dalam lava, guna mengetahui kapan terbentuknya kubah lava tersebut.

Tatsumi mengatakan, ia dan timnya berencana untuk melihat lebih dalam di bawah kaldera. Dengan ukuran kubah lava yang besar, mungkin terdapat waduk magma besar di bawah permukaan. Tim tersebut berencana untuk menggunakan pencitraan bawah permukaan guna mencari waduk tersebut dan menggambarkannya jika ada.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES