Minggu, 9 Jumadil Akhir 1439 / 25 Februari 2018

Minggu, 9 Jumadil Akhir 1439 / 25 Februari 2018

Suhu Desa Terdingin di Dunia Capai Minus 62 Celcius

Rabu 17 Januari 2018 13:51 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Winda Destiana Putri

Desa Oymyakon di Siberia.

Desa Oymyakon di Siberia.

Foto: Dailymail

REPUBLIKA.CO.ID, Sebuah desa di Siberia memiliki suhu terdingin di Bumi dimana suhu rata-ratanya di bulan Januari adalah minus 50 derajat Celcius. Akibat suhu dingin tersebut bahkan bulu mata warganya langsung membeku beberapa saat setelah mereka melangkah keluar dari rumah.

Desa Oymyakon memang tercatat sebagai sebuah pemukiman yang memiliki suhu terdingin di dunia. Cuacanya yang sangat dingin hingga minus 62 derajat sanggup merusakkan sebuah termometer elektronik yang baru digunakan.

 

Dilansir dari Daily Mail, suhu resmi yang tercatat menunjukkan minus 59 derajat namun penduduk setempat mengatakan dari alat pengukur suhu yang mereka miliki mencatat serendah-rendahnya suhu adalah minus 67 derajat. Suhu tersebut memiliki selisih satu derajat dari suhu terendah yang dapat diterima untuk sebuah pemukiman bagi manusia di manapun di dunia.

 

Rekor tersebut sebenarnya pernah dipecahkan pada tahun 1933, namun penduduk desa tidak menceritakan keseluruhan cerita. Termometer digital yang rusak tersebut sebenarnya dipasang tahun lalu untuk membantu mempromosikan Oymyakon dihadapan para turis.

 

"Termometer itu pecah karena terlalu dingin," laporan dari The Siberian Times.

 

Desa Oymyakon sendiri merupakan rumah bagi sekitar 500 orang. Pada tahun 1920 dan 1930an merupakan lokasi perhentian bagi penggembala rusa yang akan menyirami ternak mereka dari panas musim semi.

 

Oymyakon sendiri memiliki arti air yang tidak membeku. Pemerintah Soviet membuat lokasi tersebut sebagai pemukiman permanen dalam sebuah perjalanan untuk memaksa penduduknya yang kebanyakan nomaden untuk berdiam di satu tempat.

 

Pada tahun 1933 suhu Oymyakon teratat mencapai minus 67,7 derajat. Hal ini dicatat sebagai suhu terendah di belahan bumi utara. Suhu yang lebih rendah memang tercatat di Antartika namun di lokasi tersebut tidak ada yang tinggal secara permanen.

 

Masalah yang dialami oleh masyarakat sehari-hari diantaranya tinta pulpen yang membeku, kacamata yang membeku, hingga baterai yang kehilangan daya. Penduduk setempat bahkan dikatakan meninggalkan mobil mereka dalam keadaan menyala sepanjang hari karena takut tidak bisa menyalakan kembali.

 

Batu-batu yang padat juga menyusahkan untuk mengubur jenazah yang meninggal. Tanah atau batu yang padat tersebut harus dicairkan terlebih dahulu agar bisa digali. Hal ini dilakukan dengan membuat api unggun selama beberapa jam. Arang yang panas kemudian didorong masuk hingga beberapa inci dan proses ini berulang hingga mampu membuat lubang yang cukup dalam untuk mengubur peti mati.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA