Kamis , 11 Januari 2018, 18:01 WIB

Pengolahan Emas di Lebak Gunakan Sianida, Ini Keuntungannya

Rep: adinda pryanka/ Red: Dwi Murdaningsih
Republika/Adinda Pryanka
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Unggul Priyanto, meninjau kesiapan teknologi untuk pengolahan emas bebas merkuri di pilot plant di Desa Lebak Situ, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis (11/1). Rencana, area ini akan diresmikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, pada pekan ketiga Februari. 
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Unggul Priyanto, meninjau kesiapan teknologi untuk pengolahan emas bebas merkuri di pilot plant di Desa Lebak Situ, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis (11/1). Rencana, area ini akan diresmikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, pada pekan ketiga Februari. 

REPUBLIKA.CO.ID, BANTEN -- Pengolahan emas skala kecil non merkuri pertama akan dibangun di Desa Lebak Situ, Kabupaten Lebak, Banten. Dalam peninjauan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Kamis (11/1), pengolahan ini sudah siap dioperasikan.

Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Mineral BPPT, Dadan M Nurjaman, mengatakan, bahan baku merkuri akan digantikan sianida dengan faktor utama ramah lingkungan. "Melalui proses penyaringan, sianida yang tersisa dari hasil pengolahan emas sudah terolah. Hasilnya, limbah tidak seberbahaya dibanding dengan saat memakai merkuri," ujarnya.
 
Sebelum ditempatkan di Lebak, mesin pengolah sudah terlebih dahulu diuji coba sebanyak tiga kali di kawasan Ciampea. Karena berbeda kondisi geografis dan karakter bebatuan, dilakukan beberapa penyesuaian.
 
photo
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Unggul Priyanto, meninjau kesiapan teknologi untuk pengolahan emas bebas merkuri di pilot plant di Desa Lebak Situ, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis (11/1). Rencana, area ini akan diresmikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, pada pekan ketiga Februari. 
Penggunaan sianida dalam pengolahan emas ini bukanlah hal baru. Beberapa perusahaan besar sudah mengaplikasikannya, termasuk Antam. Hanya, untuk skala pertambangan masyarakat ini adalah hal baru, ucap Dadan.
 
Selain menyiapkan alat, edukasi terhadap masyarakat menjadi prioritas selanjutnya dalam memulai pengolahan emas non merkuri. Sekira 150 penambang akan diberi pemahaman tentang penggunaan alat. Ditargetkan, pada Februari, mereka sudah mulai mengoperasikannya di hadapan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya.
 
Kepala BPPT, Unggul Priyanto, mengatakan, seperti teknologi pada umumnya, pengolahan emas non merkuri ini memiliki kekurangan, yakni dari segi waktu pengolahan. Saat menggunakan merkuri, proses pengolahan emas memakan waktu 24 jam, sedangkan sianida membutuhkan 72 jam.
 
Tapi, hal tersebut tidak lantas mengurangi efektivitas tekknologi ini. Sianida mampu mengekstraksi emas sampai 91 persen, merkuri hanya 40 persen. "Jadi, kalau dihitung, penambang akan lebih untung, karena output lebih maksimal," ujar Unggul.
 
Tidak berhenti sampai di Lebak, BPPT dan KLHK berencana memperluas jangkauan teknologi pengolahan emas non merkuri. Termasuk di antaranya di Banyumas dan Pacitan.