Rabu , 10 January 2018, 14:08 WIB

Lapisan Ozon Akibat Klorin di Antartika Menurun

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Indira Rezkisari
EPA
Antartika
Antartika

REPUBLIKA.CO.ID, ANTARTIKA -- Upaya menyembuhkan lubang di lapisan ozon di atas Antartika tampaknya akan terbayar. Observasi satelit sebelumnya telah mengamati perubahan ukuran lubang ozon dan mencatat hal itu dapat tumbuh dan menyusut dari tahun ke tahun.

Namun menurut sebuah pernyataan dari NASA, studi baru-baru ini secara langsung mengukur perubahan zat klorin yang mengakibatkan penipisan ozon di atmosfer atas Antartika. Studi tersebut menunjukkan penurunan penipisan ozon akibat klorin sebesar 20 persen antara 2005 dan 2016.

Studi ini melihat data ozon yang dikumpulkan antara 2005 dan 2016 oleh instrumen Microwave Lim Sounder (MLS) di atas satelit Aura. Instrumen tersebut tidak dapat secara langsung mendeteksi atom klorin, namun mendeteksi asam hidroklorida yang terbentuk saat atom klorin bereaksi dengan metana dan kemudian terikat dengan hidrogen.

Ketika Antartika bermandikan di bawah sinar matahari di musim panas, cholorofluorocarbon (CFC) terpecah dan menghasilkan klorin. Klorin ini memecah atom ozon. Namun selama bulan-bulan musim dingin (awal Juli sampai pertengahan September), klorin cenderung mengikat metana di sekitarnya.

"Pada sekitar pertengahan Oktober, semua senyawa klorin mudahdiubah menjadi satu gas. Jadi dengan mengukur asam hidroklorida, kita memiliki ukuran klorin yang baik," ujar penulis utama dan ilmuwan atmosfer di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA, Susan Strahan, dilansir dari Fox News, Rabu (10/1).

Instrumen MLS mengamati lubang ozon setiap hari selama musim dingin di belahan bumi selatan. Strahan menuturkan selama periode ini, suhu Antartika selalu sangat rendah sehingga tingkat kerusakan ozon sangat bergantung pada berapa banyak klorin yang ada. "Ini saat kita ingin mengukur kehilangan ozon," katanya.

Karena penelitian sebelumnya mengandalkan pengukuran ukuran fisik lubang ozon, penulis penelitian baru mengatakan bahwa penelitian mereka adalah yang pertama dan secara langsung menunjukkan penipisan ozon menurun sebagai akibat langsung dari penurunan adanya klorin dari CFC.

"Penurunan 20 persen dalam deplesi adalah sangat dekat dengan apayang diprediksi model kita, kita harus melihat penurunan klorin ini. Ini memberi kita keyakinan bahwa penurunan penipisan ozon hingga pertengahan September ditunjukkan oleh data MLS, karena turunnya kadar klorin yang berasal dari CFC," ujar Strahan.

"Tapi kita belum melihat penurunan yang jelas dalam ukuran lubang ozon karena itu dikendalikan terutama oleh suhu setelah pertengahan September yang bervariasi dari tahun ke tahun," katanya lagi.

Sebelumnya, pada pertengahan 1980-an, para periset mengidentifikasi lubang besar di lapisan ozon di Antartika dan menentukan sebagian besar disebabkan oleh bahan kimia buatan manusia yakni CFC. Lapisan ozon di bumi berfungsi melindungi permukaan planet dari beberapa sinar matahari yang berbahaya.