Tuesday, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 February 2018

Tuesday, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 February 2018

Lubang Lapisan Ozon di Atas Antartika Diklaim Kian Mengecil

Selasa 09 January 2018 05:28 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Winda Destiana Putri

Antartika

Antartika

REPUBLIKA.CO.ID, MARYLAND -- Lubang di lapisan ozon yang terdapat di atas Benua Antartika, Kutub Selatan, diketahui kian mengecil dan berkurang. Hal ini berdasarkan hasil pencitraan dari Satelit Aura milik National Aeronautics and Space Administration (NASA).

Kondisi ini diklaim sebagai dampak positif dari penerapan Protokol Montreal, yang mengatur tentang pengurangan penggunaan CFC (Chloro-Flurocarbons) pada 1989. CFC banyak terdapat di Air Conditioner, Kulkas, dan alat semprot. Jika terlepas ke Stratosphere dan terkena radiasi sinar ultraviolet dari matahari, maka CFC akan melepaskan atom Klorin, yang menghancurkan sejumlah molekul di lapisan ozon.

Lapisan ozon merupakan lapisan yang berada di atmosfer bumi, yang berfungsi seperti tabir surya. Lapisan ozon ini melindungi bumi dari radiasi sinar ultraviolet, yang dapat menyebabkan kanker kulit, katarak, dan kerusakan di alam liar. Sejak 1980, sejumlah peneliti menemukan lubang ozon di atas Benua Antartika. Penggunaan CFC ini disebut menjadi salah satu penyebab munculnya lubang ozon di atas Benua Antartika tersebut.

Tidak hanya itu, penipisan lapisan ozon ini terjadi pada suhu dingin dan bervariasi sesuai dengan kondisi cuaca dari tahun ke tahun. Alhasil, upaya untuk mempelajari tingkat penipisan ozon cukup sulit untuk dilakukan. Pada penelitian sebelumnya, tim peneliti menggunakan analisis perubahan ukuran lubang ozon dan menyatakan, penipisan ozon telah berkurang.

Sejak 2005 silam, NASA menggunakan satelit Aura untuk melakukan monitoring terhadap kondisi lubang ozon di Benua Antartika. Dengan metode terbaru, NASA menggunakan Satelit Aura untuk mengukur kadar komposisi kimia, terutama CFC, di atmosfer di atas Benua Antartika. Hasilnya, lubang ozon di atas Benua Antartika kian mengecil. Klaim ini pun diperkuat dengan menurunnya kadar CFC di atas Benua Antartika.

Baca juga: Mapala UI Gapai Puncak Gunung Tertinggi di Antartika

''Semua bukti ini menunjukan Protokol Montreal benar-benar berhasil. Kadar Klorin terus menurun di stratosphere Benua Antartika. Seiring dengan hal itu, kerusakan di lapisan ozon juga terus berkurang,'' kata Kepala Tim Peneliti dari NASA, Dr Susan Strahan, seperti dikutip Daily Mail.

Dari hasil penelitian tersebut, kadar konsentrasi CFC di Benua Antartika menurun hingga ke rataan 25 part per trilion atau turun sekitar 0,8 persen setiap tahun. Secara keseluruhan, sejak Protokol Montreal diberlakukan, berarti sudah ada penurunan sekitar 20 persen kerusakan ozon yang terdapat di atas Benua Antartika.

Kendati begitu, usaha untuk terus mengurangi lubang ozon di atas Benua Antartika tidak boleh berhenti. Pasalnya, CFC bisa terus bertahan di atmosfer selama 50 hingga 100 tahun. ''CFC bisa bertahan antara 50 hingga 100 tahun. Jadi kandungan itu bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama di atmosfer. Kemungkinan besar, baru pada 2060 atau 2080, kandungan CFC di atmosfer benar-benar hilang. Tapi itu tetap meninggalkan lubang kecil di atas Benua Antartika,'' tutur anggota tim peneliti, Dr Anne Douglas.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA