Senin , 18 December 2017, 15:43 WIB

Mahasiswa UB Ciptakan Pengganti Antibiotik

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Winda Destiana Putri
pixabay
Antibiotik
Antibiotik

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berhasil menciptakan probiotik sebagai pengganti antibiotik untuk unggas seperti burung dan ayam. Ciptaan ketiga mahasiswa UB ini dinilai mampu meningkatkan produksi daging dan telur hingga 11 persen.

Mahasiswa Mokhammad Fahmi Rizky Syaban (Fakultas Kedokteran), Ilham Ardiansyah (Fakultas Peternakan) dan Rizhaf Setyo Hartono (FMIPA) menjelaskan, pembuatan ciptaannya yang bernama ProLAB ini dilatarbelakangi oleh maraknya penambahan Antibiotic Growth Promotor (AGP) pada industri unggas yang berdampak negatif. Apalagi, dia menambahkan, penggunaan AGP berlebihan dapat meningkatkan resistensi mikroba, mutan bahkan zoonosis.

Ilham menerangkan, dalam proses bekerjanya AGP justru bisa mengurangi jumlah bakteri di dalam usus unggas, baik yang bersifat patogen maupun non patogen. Berkebalikan dengan AGP, penggunaan ProLAB justru bisa meningkatkan pertumbuhan bakteri non patogen namun tetap mengurangi jumlah bakteri patogen. "Dan selain bermanfaat untuk kesehatan pencernaan, ProLAB juga bertugas untuk memperbaiki kinerja mikroflora atau mikroba yang ada di saluran usus," kata Ilham melalui keterangan resmi yang diterima Republika, Senin (18/12).
 
Mengenai ProLAB sendiri, Ilham menjelaskan, ini terbuat dari tepung probiotik dengan kandungan mikroorganisme/mikroba yang dipadatkan dalam bentuk mikro kapsul. Dalam proses pemadatannya, ini menggunakan mesin mikrowave agar bakteri yang terkandung didalam ProLAB terinkubasi dan tidak mati.
 
Selanjutnya, ProLAB yang sudah dibentuk menjadi mikrokapsul dicampur di dalam pakan ternak dengan presentase kurang dari satu persen. Dengan demikian, proses penyerapan makanan di dalam usus unggas diharapkan bisa menjadi lebih baik.
 
Sebagai informasi, inovasi tersebut mengantarkan ketiga mahasiswa mendapatkan Silver Prize di ajang Seoul International Invention Fair (SIIF) 2017. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Korean Invention Promotion Association (KIPA) ini mempertemukan inovator dan peneliti dari seluruh penjuru dunia untuk untuk mempublikasikan produk temuan unggulan. Kemudian memperluas distribusi produk yang dipatenkan dan mempromosikan transfer teknologi.
 
Mendengar capaian ini, Wakil Dekan III Fapet, Osfar Sjofjan mengatakan bahwa prestasi ini sebagai upaya meningkatkan daya saing mahasiswa melalui program penalaran dan keilmiahan. "Dengan demikian mahasiswa dapat memberikan sebuah gagasan, ide, atau inovasi baik di level nasional maupun internasional," tegas dia.