Kamis , 07 December 2017, 14:13 WIB

Mengapa Burung Parkit Cenderung Hijau?

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Winda Destiana Putri
Google
Burung parkit.
Burung parkit.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Warna bulu burung sangat beragam, tapi parkit tidak seperti kebanyakan burung. Burung paruh bengkok bertubuh kecil ini kebanyakan berwarna hijau, meski sebagian ada yang biru dan kuning.

Melopsittacus undulatus adalah burung parkit dengan wajah kuning, ekor panjang dan runcing. Bulunya abu-abu arang dengan warna kuning lembut yang merayap ke punggung serta sayapnya. Parkit banyak dikembangbiakkan di penangkaran dan dijadikan hewan peliharaan dalam kandang.
 
Peneliti genetika dari Stanford Universitu, Thomas Cooke mencoba meneliti burung parkit dalam 150 tahun seleksi alam warnanya. Cooke menemukan pigmen kuning dari burung ini disebut psittacofulvin. Pigmen ini sangat istimewa sebab hanya ditemukan pada burung parkit.
 
Psittacofulvins terdiri dari sekelompok pigmen yang memberi warna-warna cantik juga cerah pada burung parkit, mulai dari merah, oranye, dan kuning cemerlang. Burung yang tubuhnya diwarnai pigmen psittacofulvin bisa menahan degradasi bakteri dibanding burung-burung yang warnanya dominan putih.
 
Pada dasarnya gen memiliki kode-kode warna. Warna biru pada burung parkit bersamaan datangnya dengan warna kuning. Kedua warna ini bercampur menciptakan bulu hijau. Pigmen kuning meluruh dan muncul bulu hijau. Pada keturunan berikutnya, pigmen hijau meluruh menjadi biru, sementara pigmen kuning menjadi putih.
 
Meski warna bulu parkit secara genetik sudah ditelusuri. Aspek molekuler dan biokimia yang mendasari warna bulu ini tetap belum dieksplorasi.
 
"Sebagai contoh, lebih dari seratus tahun penelitian genetik menginformasikan bahwa gen pigmen psittacofulvin kuning pada parkit dikendalikan satu gen lokus. Sayangnya pola pewarisannya tak terlihat jelas. Oleh karenanya ini perlu diteliti supaya lebih mudah melacak dengan tepat gen mana itu," kata Cooke, dilansir dari Forbes, Kamis (7/12).
 
Penelitian Cooke menjembatani kesenjangan antara biologi molekular dan biokimia untuk menyelidiki pigmentasi pada satwa. Ia menggunakannya sebagai jalur untuk membuka rahasia proses seluler dan perkembangan satwa. Tujuannya adalah mendiagnosis bagaimana mekanisme biokimia menyebabkan variasi dalam penampilan fisik, atau fenotip sebuah individu.

Berita Terkait