Sabtu , 02 Desember 2017, 15:32 WIB

Periset Kembangkan Tes untuk Cegah Bayi Lahir Prematur

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Winda Destiana Putri
irishprematurebaby.com
Bayi prematur
Bayi prematur

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Kasus kelahiran bayi terlalu awal atau prematur menjadi permasalahan cukup serius di Inggris. Lebih dari 61 ribu bayi lahir prematur tiap tahun dan sekitar 1.000 di antaranya tidak selamat.

Mereka yang bertahan pun berisiko mengidap lumpuh otak atau cerebral palsy, kebutaan, dan kesulitan belajar. Saat beranjak dewasa, mereka lebih rentan terhadap sejumlah masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi dan diabetes.

"Alasan mengapa perempuan melahirkan lebih awal tidak sepenuhnya dipahami. Mencegah kelahiran prematur selalu menjadi tantangan besar bagi pengobatan modern," kata Profesor Nigel Klein dari Institut Kesehatan Anak UCL Great Ormond Street, London.

Berangkat dari kompleksnya hal tersebut, Klein memimpin sebuah riset yang didanai badan amal Action Medical Research. Penelitian itu mengembangkan cara baru untuk memprediksi risiko kelahiran prematur pada awal kehamilan.

Badan amal yang sama telah menyokong pembiayaan riset mengenai hal serupa pada periode sebelumnya. Studi terdahulu mengungkap bahwa ibu hamil yang kekurangan sel darah putih di serviks cenderung melahirkan sebelum waktunya.

Saat ini, tim yang dipimpin Klein sedang mengembangkan serangkaian tes untuk mendeteksi sel-sel tersebut di awal kehamilan. Dengan demikian, ibu yang terdeteksi berisiko melahirkan prematur bisa mendapatkan perawatan untuk memperpanjang masa kehamilan.

"Kami berharap tes yang kami kembangkan akan membantu para perempuan yang berisiko tinggi melahirkan dini, kondisi mereka dapat terpantau dan mendapat perawatan ekstra," ujar Klein, dikutip dari laman Express.