Ahad , 22 October 2017, 18:52 WIB

Peneliti Ungkap Penyebab Gangguan Disleksia

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Dwi Murdaningsih
The Guardian
Anak disleksia (ilustrasi)
Anak disleksia (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, RENNES -- Hasil studi dari sejumlah peneliti dari Universitas Rennes, Prancis, mengungkapkan faktor penyebab munculnya gangguan disleksia. Menurut hasil studi yang telah dimuat dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B, kondisi mata yang asimetris dinilai menjadi penyebab gangguan disleksia.

Secara sederhana, disleksia adalah gangguan dalam kemampuan membaca dan menulis. Para penderita disleksia kerap kesulitan dalam mengeja kata, menyusun kalimat, dan bahkan menulis kalimat dengan baik. Umumnya, gangguan disleksia ini dijumpai pada anak usia tujuh hingga delapan tahun.

Selain faktor keturunan, para ahli belum bisa memastikan secara tepat penyebab dari munculnya gangguan disleksia tersebut. Namun, dalam penelitian terbaru, para ilmuwan menemukan kemungkinan baru penyebab munculnya gangguan ini.

Studi yang dilakukan ahli dari Universitas Rennes itu mempelajari bentuk mata dari 30 orang non disleksia dan 30 orang penderita disleksia. Hasilnya, peneliti menemukan, bagian tertentu dari salah satu mata, khususnya yang berkaitan dengan pengenalan warna, pada orang non disleksia berbentuk bulat sempurna.

Namun, kondisi berbeda ditemukan pada mata lainnya. Hal ini akhirnya berdampak pada perbedaan kualitas pandangan yang didapatkan oleh masing-masing mata. Dengan bentuk bagian mata bulat sempurna, orang tersebut mempunyai pandangan yang lebih jernih.

Selain itu, kondisi ini juga mempengaruhi sinyal yang dikirimkan mata ke dua sisi bagian otak, baik otak kanan ataupun otak kiri. Sebenarnya, kondisi ini mirip dengan preferensi seseorang dalam menggunakan tangannya, ada tangan yang secara natural lebih dominan dan lebih sering digunakan dibanding yang lain. Kendati begitu, semua temuan ini tidak terdapat pada penderita disleksia.

Bentuk mata para penderita disleksia cenderung sama dan tidak memiliki mata yang dominan. Anomali yang terdapat di mata ini, menurut studi tersebut, mengakibatkan otak mengalami kesulitan dan bingung untuk menentukan dua citraan atau bentuk yang mirip. Terlepas dari gejala utama disleksia, kesulitan membaca dan menulis, para penderita disleksia juga tidak jarang mengalami kesulitan untuk membedakan kanan dan kiri.

''Kondisi ini kemungkinan besar menjadi basis penyebab secara biologis dan anatomi dalam gangguan membaca dan menulis. Para penderita disleksia memiliki mata yang sama. Akhirnya otak mereka kesulitan dalam mengidentifikasi dua versi hasil penginderaan mata,'' tutur salah satu tim peneliti, Guy Ropar, seperti dikutip The Independent.

Berdasarkan data, kondisi disleksia ini dialami oleh 10 persen dari total populasi di Inggris. Meskipun cukup relevan, namun sayangnya hasil studi ini belum bisa menemukan penyebab perbedaan anatomi mata tersebut. Selain itu, apakah kondisi ini menjadi satu-satunya penyebab disleksia. Untuk itu, diperlukan penelitian lanjutan terkait tema tersebut.

Ahli disleksia dan profesor di bidang neuroscience dari Universitas Oxford, John Stein, menuturkan, penelitian ini cukup menarik. Pasalnya, studi tersebut menekankan aspek penting penglihatan dalam mencari penyebab disleksia.