Kamis , 19 October 2017, 01:20 WIB

Transfusi dari Wanita Bisa Berisiko Bagi Pria

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Esthi Maharani
demandstudios
Hamil
Hamil

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Transfusi dari wanita yang pernah hamil ke resipien pria meningkatkan risiko kematian pria tersebut dibanding transfusi ke sesama pria atau ke sesama wanita. Perubahan sistem imun tubuh selama kehamilan diduga jadi pemicu peningkatan risiko tersebut.

Dalam riset yang dilakukan peneliti American Red Cross Blood Services Ritchard Cable dan Peneliti Department of Hematology Karolinska University Hospital Stockholm, Gustaf Edgren, transfusi dari sesama pria atau dari wanita yang belum pernah hamil lebih aman bagi pria dibanding menerima transfusi dari wanita yang pernah hamil. Belum diketahui pasti penyebab hal itu.

Para peneliti menduga hal itu karena perubahan sistem imun saat wanita hamil. Namun para peneliti menyarankan agar penelitian lanjutan dilakukan untuk mendapatkan pemahaman lebih dalam.

''Untuk saat ini, kriteria transfusi darah tidak perlu diubah,'' ungkap Cable dalam makalahnya seperti dikutip Live Science, Selasa (17/10).

Studi ini menganalisis transfusi dari lebih dari 31 ribu individu di Belanda antara 2005-2015. Studi ini fokus pada tranfusi darah pada pria dengan donor pria, donor wanita yang pernah hamil, dan donor wanita yang belum pernah hamil.

Dari data yang dikumpulkan, 1.000 resipien pria per tahun, ada 101 yang tewas karena menerima donor dari wanita yang pernah hamil. Sementara resipien pria yang tewas dengan menerima donor dari sesama pria sebanyak 80 orang. Tak ada kasus resipien wanita tewas saat menerima transfusi dari wanita pernah hamil dan wanita belum pernah hamil.

Meski langka, ada kondisi cedera paru akut terkait transfusi (TRALI), yakni pembengkakan paru yang bisa menyebabkan kematian. Para peneliti menduga antibodi yang berkembang saat wanita hamil bisa memicu dapat TRALI.