Rabu , 11 Oktober 2017, 12:34 WIB

Studi: Obesitas Paling Rentan Mengenai Anak-Anak

Rep: NOVITA INTAN/ Red: Winda Destiana Putri
Obesitas anak
Obesitas anak

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tingkat obesitas masa kecil di seluruh dunia telah melonjak drastis dalam empat dekade terakhir. Tercatat, jumlah anak-anak berusia 5-19 tahun yang mengalami obesitas meningkat sepuluh kali lipat dari tahun 1975 sampai 2016, dan tingkat tertinggi ada di Polinesia dan Mikronesia.

Negara-negara berpenghasilan tinggi seperti negara-negara Eropa lainnya dan Amerika Serikat telah mengalami plateau (berat badan), namun mereka belum mulai menurun dan paling terendah di Eropa Timur. Tren terbaru muncul dari lebih dari 2.400 studi yang mendokumentasikan tinggi dan berat hampir 130 juta anak-anak dari tahun 1975 sampai 2016. Para ilmuwan, yang dipimpin oleh Majid Ezzati, profesor kesehatan lingkungan global di Imperial College London, menggunakan informasi tersebut untuk menghitung massa tubuh, indeks (BMI).

Secara keseluruhan, jumlah anak-anak dan remaja dengan obesitas yang didefinisikan oleh pengukuran BMI yang dihitung usia oleh Organisasi Kesehatan Dunia, meningkat dari tahun 1975 sampai 2016 dari lima juta menjadi 50 juta di antara anak perempuan, dan dari enam juta menjadi 74 juta di antara anak laki-laki.

BMI di antara anak-anak meningkat dari tahun 1975 sampai 2016 di hampir setiap bagian dunia, termasuk di sebagian besar wilayah Afrika. Sementara daerah Afrika masih mencatat prevalensi (populasi) obesitas yang relatif rendah, namun Afrika bagian selatan melihat kenaikan obesitas tertinggi di antara anak-anak, pada 400 persen per dekade dalam periode waktu yang diteliti.

Kawasan dunia dengan tingkat obesitas yang sudah tinggi melihat kenaikan proporsional sedikit lebih kecil, dan beberapa melihat itu di kawasan dataran tinggi. Di tempat-tempat seperti Polinesia dan Mikronesia, Asia Tenggara dan Asia Selatan, serta Amerika Serikat, tingkat obesitas di antara anak-anak tetap di atas 20 persen.

Ezzati mengatakan bahwa dataran tinggi di negara-negara dengan tingkat obesitas yang tinggi secara tradisional agak menggembirakan, karena ini terjadi walaupun beberapa perubahan signifikan untuk mengatasi kenaikan berat badan yang berlebihan di antara anak-anak.

Meskipun beberapa kebijakan telah diterapkan untuk memperbaiki olahraga dan diet di sekolah-sekolah di Amerika Serikat, misalnya, program ini tidak semarak dan konsisten sebagaimana mestinya. "Kabar baik tentang dataran tinggi adalah kejutannya, terutama karena dalam pengertian kebijakan yang aktif, kami belum banyak berbuat untuk mengatasi obesitas masa kecil," katanya seperti dilansir dari laman, Time.

Studi ini juga mendokumentasikan tingkat kurang gizi dan berat badan di seluruh dunia, juga menemukan bahwa prevalensi berat di bawah menurun dari 9,2 persen pada tahun 1975 menjadi 8,4 persen pada tahun 2016 di antara anak perempuan, dan dari 14,8 persen menjadi 12,4 persen di antara anak laki-laki.

Meski begitu, jumlah anak yang terkena kekurangan berat badan melebihi mereka yang mengalami obesitas. Tapi jika tren obesitas saat ini terus berlanjut, akan ada lebih banyak anak yang mengalami obesitas daripada yang kurus pada tahun 2022.

"Bagi kami obesitas dan berat badan adalah manifestasi (perwujudan) dari masalah yang sama, yaitu orang-orang tidak mampu atau tidak diberi kesempatan untuk makan cukup, atau mereka tidak mampu atau tidak diberi kesempatan makan sehat," katanya.

"Mudah-mudahan dengan penelitian ini, kita bisa menjembatani terputusnya antara dua populasi orang dan menemukan hal-hal yang sama untuk dilihat untuk menyelesaikan masalah," ungkapnya.



Sumber : Center

Berita Terkait