Selasa , 10 Oktober 2017, 16:25 WIB

Pemanasan Global Meningkatkan Potensi Turbulensi Udara

Rep: Taufiq Alamsyah Nanda/ Red: Winda Destiana Putri
Ilustrasi penerbangan
Ilustrasi penerbangan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Geophysical Research Letters menemukan bahwa perubahan iklim dapat menyebabkan turbulensi pesawat udara (clear-air turbulance / CAT) hingga tiga kali lipat antara tahun 2050 dan 2080. Hal tersebut menjadikan perjalanan udara menjadi lebih bergelombang.

CAT terjadi ketika sebuah massa udara yang bergerak dengan kecepatan tertentu, kemudian bertabrakan dengan massa udara lain dari arah berlawanan. Biasanya hal tersebut terjadi karena tekanan atmosfer, arus udara jet, udara di sekitar pegunungan ataupun fakor suhu dan cuaca yang ekstrem.

Turbulensi udara menjadi suatu momok yang menakutkan di dunia penerbangan. Sebabnya, karena CAT dapat terjadi kapan saja tanpa bisa diprediksi. Bahkan tidak ada tanda – tanda yang kasat mata seperti keberadaan awan maupun badai.

"Ketika Anda mengalami CAT, hal tersebut benar-benar bisa merusak beberapa bagian pesawat, sangat kuat dan entah datang dari mana, kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," ujar Rob Mark, seorang pilot komersial dan pengurus laman JetWhine.com kepada Fox News.

Penulis jurnal Geophysical, mengatakan bahwa pemanasan global menjadi faktor utama meningkatnya turbulensi. Pasalnya, perubahan suhu yang masif memperkuat ketidakstabilan angin di ketinggian jalur pesawat. Yang dapat menyebabkan aliran udara yang keras menjadi lebih kuat dan sering muncul.

Periset di Universitas Reading, Inggris menggunakan model matematis untuk meramalkan kondisi jangka panjang CAT. Untuk penerbangan yang yang berada di ketinggian 39.000 kaki, studi tersebut memperkirakan gejolak parah meningkat 110 persen dalam penerbangan yang melintasi Amerika Utara; 180 persen di atas Atlantik Utara; dan 160 persen di atas Eropa.

Menurut data dari Lembaga Penerbangan Federal di Amerika Serikat, setiap tahunnya terdapat 58 orang yang cidera akibat turbulensi udara. "Itu terjadi begitu cepat dan kekuatan begitu kuat sehingga Anda tidak dapat berbuat apa-apa. Itu sebabnya pramugari sering terluka karena merekalah yang berjalan (memeriksa penumpang) saat tanda sabuk pengaman menyala (karena guncangan)," ujar Mark.

Pada bulan Agustus, sebuah pesawat American Airlines mengalami turbulensi udara yang sangat  parah. Peristiwa itu menyebabkan 10 orang penumpang terluka. Alex Ehmke, seorang penumpang dalam penerbangan tersebut mengatakan bahwa dia melihat orang-orang menabrak langit-langit pesawat dan air minum terlempar ke segala arah.

"Tidak ada peringatan sama sekali, saya pikir itulah yang membuat begitu banyak orang lengah, turbulensi hanya terjadi sekitar lima detik dan tiba-tiba saja rasanya seluruh pesawat jatuh bebas," Ehmke memberikan kesaksian.

Para ahli mendesak, dibutuhkan studi lebih lanjut terkait dengan turbulensi udara. Hal tersebut agar ke depannya, turbulensi udara dapat diramalkan dan perencanaan penerbangan dapat dilakukan dengan lebih matang.

"Ilmu pengetahuan harus lebih akurat dalam meneliti turbulensi. Agar pilot mengetahui keberadaan turbulensi dan pesawat harus dirancang untuk melawan gejolak tersebut," papar Bob Francis, mantan Wakil Ketua NTSB.

Berita Terkait