Ahad , 13 Agustus 2017, 03:01 WIB

Makanan Pedas Bisa Membuat Anda Tuli Dua Menit?

Red: Ratna Puspita
Akbar Tado/Antara
Cabai. (Ilustrasi)
Cabai. (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Makanan pedas dapat menjadi tantangan yang ekstrem, namun seorang video blogger mengalami reaksi ketika melakukan eksperimen baru-baru ini: tuli selama dua menit. Dia mengabadikan tantangan menikmati makanan pedas, termasuk keringat, dan air mata, melalui sebuah video

”Rasa sakit itu sampai ke telinga saya sampai-sampai sepertinya tidak berfungsi,” kata Ben Sumadiwiria, yang mempublikasikan sebuah video tentang dirinya makan mi di Indonesia tahun lalu, dilansir dari Live Science, Ahad (13/8). 

Tapi bagaimana cabai bisa membuat seseorang menjadi tuli, meski hanya sementara? Tidak ada jawaban medis tertentu. Tapi, hal itu bisa terjadi karena adanya koneksi yang kompleks antara mulut, tenggorokan, dan telinga. 

Mi yang dimakan oleh Sumadiwiria di Indonesia dibuat dengan 100 cabai rawit. Cabai merah kecil ini memiliki skala pedas antara 100 ribu hingga 225 ribu unit panas sesuai dengan Scoville, yang merupakan pengukur kepedasan. 

Sumadiwiria kepada Live Science mengatakan dia sudah terbiasa makan makanan pedas. Bahkan, dia terbiasa makan camilan bersama saus cabai atau acar cabai. 

Namun, Sumadiwiria mengatakan, mi yang dikemas dnegan cabai membuatnya berkeringat, dan wajah menjadi merah. Bahkan, dia menururkan, dia merasakan rasa pedas yang paling buruk yang pernah dia cicipi. “Saya tidak bisa mendengar apapun,” kata dia dalam video tersebut, beberapa saat sebelum menyiram kepalanya dengan air dingin.

Cabai mengandung senyawa yang disebut capsaicin. Capsaicin mengiritasi sel manusia, terutama selaput lendir yang melapisi mulut, tenggorokan, perut dan mata. 

Dalam jumlah kecil, senyawa ini menyebabkan sensasi terbakar saat reseptor rasa sakit di membran bereaksi terhadap iritan. Dengan meningkatnya konsentrasi, tubuh meningkatkan upaya melindungi dirinya sendiri dengan cara menghasilkan ingus dan air mata berlebihan untuk mencoba membentuk penghalang antara dirinya dan capsaicin. 

Ini melepaskan endorfin untuk menghambat transmisi rasa sakit, yang terkadang membuat mulut terasa mati rasa. “Efek mati rasa ini adalah mengapa capsaicin kadang-kadang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit kronis,” kata Dr. Michael Goldrich, ahli otolaringologi di Robert Wood Johnson University Hospital di New Jersey. 

Menurut Goldrich, capsaicin awalnya kali meningkatkan rasa sakit dan sensasi terbakar. Namun tak lama kemudian, mereka menghambat saraf yang membawa rasa sakit.

Kembali ke mi pedas yang dicicipi oleh Sumadiwiria: Mengkonsumsi kadar capsaicin yang sangat tinggi bahkan bisa menimbulkan tenggorokan atau tenggorokan mulut. Ada beberapa alasan seseorang mungkin mengalami sensasi kehilangan pendengaran setelah makan makanan pedas. 

Tenggorokan dan telinga dihubungkan oleh saluran yang dikenal sebagai tabung Eustachius, yang membantu menyamakan tekanan di telinga bagian dalam. Goldrich mengatakan, ketika hidung mulai menghasilkan banyak ingus-seperti yang terjadi saat Anda menorehkan sesuatu yang pedas-ini bisa menghalangi tabung Eustachius.

"Kemudian, sebagai reaksi dari kondisi itu, orang akan merasa bahwa pendengaran mereka telah turun," kata Goldrich. Ini adalah fenomena yang sama yang saat Anda menderita flu yang parah.

Ketua Departemen Otolaringologi Loyola Medicine, yang juga ahli dalam gangguan pendengaran, Dr Sam Marzo mengutarakan kemungkinan lain yakni gangguan pendengaran adalah efek dari hiperstimulasi saraf trigeminal. Sensitivitas saraf trigeminal memasok sensasi dan kendali motor ke mulut dan wajah, dan menghubungkan ke saraf koklea, yang bertanggung jawab untuk mentransmisikan informasi pendengaran.

Marzo mengatakan orang yang menderita migrain terkadang kehilangan pendengaran sementara karena overstimulasi saraf trigeminal mengubah permeabilitas pembuluh darah yang memasok saraf koklea. “Sesuatu yang serupa bisa terjadi pada Sumadiwiria dengan paprika pedas,” kata Marzo.

Bila rangsangan mereda, begitu pula gangguan pendengaran. Tapi, Marzo mengingatkan, beberapa aliran darah berubah ke saraf koklea bisa menyebabkan kerusakan permanen. 

Jadi, dia menyarankan, jika perasaan kehilangan pendengaran tidak mereda dengan cepat, apapun penyebabnya, sebaiknya bawa ke dokter. "Jika Anda makan makanan atau minum obat dan Anda memiliki perubahan pada pendengaran atau penglihatan Anda yang tidak membaik, segera dapatkan bantuan," katanya. "Jangan menunggu."

Meskipun pengalaman Sumadiwiria, capsaicin mungkin lebih cenderung melindungi pendengaran daripada merusaknya.