Ahad , 19 Maret 2017, 19:59 WIB

Bisa Kembalikan Penglihatan, Ilmuwan Berhasil Ciptakan Implan Retina Buatan

Rep: Novita Intan/ Red: Winda Destiana Putri
Retina mata/ilustrasi
Retina mata/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat ini para ilmuwan telah mengembangkan sebuah implan retina buatan. Temuan ini dapat mengembalikan penglihatan seseorang.

Seperti dilansir, Sciencealert, para ilmuwan awalnya mencoba mengaplikasikan pada penglihatan seekor tikus yang sudah tidak bisa melihat. Dalam rencananya tahun ini, mereka akan melakukan percobaan pada manusia.

Implan ini nantinya akan mengonversi cahaya menjadi sinyal listrik yang merangsang neuron retina. Sehingga bisa memberikan harapan pada jutaan orang yang mengalami degenerasi retina, termasuk retinitis pigmentosa. Retinitis pigmentosa merupakan kondisi sel-sel fotoreseptor mata yang pecah dan menyebabkan kebuataan.

Retina sendiri terletak di belakang matA yang terdiri dari jutaan fotoreseptor peka terhadap cahaya. Namun, mutasi satu dari jutaan ini dapat menyebabkan degenerasi retina. Sebab, mutasi ini bisa saja membuat sel-sel fotoreseptor mati.

Sekarang, sebuah tim yang dipimpin oleh Italian Institute of Technology telah mengembangkan pendekatan baru. Dalam prosedurnya, nanti peneliti akan menanam alat kesehatan yag di desain untuk menganti bagian tubuh tertenu untuk medapatkan kembali fungsinya atau prosthesis ke dalam mata. Fungsinya sebagi pengganti kerja retina yang telah rusak .

Implan ini terbuat dari polimer konduktif sangat tipis. Nantinya akan diletakkan pada substrate berbasis sutra dan ditutupi dengan semiconducting polymer. Sementara semiconducting polymer ini akan bertindak sebagai fotovoltaik, yang akan menyerap cahaya ketika memasuki lensa mata. Ketika itu terjadi, listrik akan merangsang neuron retina, mengisi kesenjangan fotoreseptor yang telah rusak.

“Kami berharap untuk replikasi pada manusia akan sebaik yang telah dilakukan pada hewan, kami berencana untuk melaksanakan percobaan pertama pada manusia di paruh kedua tahun ini,” ujar salah satu peneliti ophthalmologist, Grazia Pertile, dari Sacred Heart Don Calabria in Negrar, Italia.

Berita Terkait