Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Ilmuwan Gunakan Sinyal Otak untuk Koreksi Robot

Ahad 12 March 2017 12:06 WIB

Rep: Nora Azizah/ Red: Winda Destiana Putri

Robot Baxter.

Robot Baxter.

Foto: Mashable

REPUBLIKA.CO.ID, Baxter, sebuah robot yang bisa menggerakan tangannya untuk memindahkan kaleng cat mampu berekspresi. Robot Baxter harus bisa memisahkan antara kaleng cat dan lainnya.

Ketika Baxter salah menempatkan kaleng cat di dalam tempat lain, dia akan menunjukkan wajah malu. Namun ketika benar maka wajahnya berubah sumringah. Baxter memperlihatkan ekspresi tersebut di depan seorang peneliti dengan menggunakan Unattractive Electroencephalography (EEG).

Laman Mashable menuliskan, Baxter tengah dilatih membedakan bahan kaleng. Baxter merupakan robot besutan Rethink Robotics yang tengah terkoneksi dengan peneliti dihadapannya menggunakan sinyal otak manusia melalui alat EEG tersebut. Alat tersebut berbentuk seperti cap atau topi plastik. "Kami kemudian menyambungkan topi EEG dengan komputer," ujar MIT Computer Science and Artificial Intelligence Laboratory (CSAIL) Joseph DelPreto.

Sinyal tersebut menghubungkan antara Baxter dan orang yang tengah menggunakan topi EEG. Sinyal bernama error-related-potensials atau ErrP tersebut mampu memberikan pembenaran pada robot bila salah meletakan kaleng. Sementara berhasil atau gagalnya alat bergantung pada kekuatan sinyal. Hanya Baxter saja tidak cukup untuk mendeteksi sinyal tersebut. Itu sebabnya memerlukan topi EEG. Kemudian laptop berfungsi mencocokan algoritma antara keduanya. Kemampuan sinyal tersebut bisa bekerja mengklasifikasi algoritma di bawah 30 milisecond.

Apabila terdapat kesalahan, program akan langsung memberikan sinyal khusus pada pengguna cap dan robot. Baxter memang belum bisa disebut sebagai robot mind-control, namun sudah berada setingkat lebih maju. Setidaknya keberadaan Baxter bisa menjawab pertanyaan mengenai teknologi pengendalian menggunakan otak. Beberapa perangkat dan gadget memang sudah ada yang menerapkan hal tersebut. Namun yang berbeda dari Baxter, robot ini tidak memerlukan konsentrasi tinggi untuk mengendalikannya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES