Kamis , 16 February 2017, 08:15 WIB

Ilmuwan Temukan Spesies Katak Baru di Tanzania

Red: Ani Nursalikah
telegraph.co.uk
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, ARUSHA -- Satu spesies baru katak yang unik telah ditemukan di Tanzania Timur. Perkembangan ini diperkirakan akan mendorong potensi pariwisata bagi pencinta hewan amfibi dan peneliti di negara Afrika Timur.

Direktur Pelaksana bagi Kelompok Pelestari Hutan Tanzania (TFCG) Charles Meshark pada Selasa (14/2) mengatakan spesies baru itu telah ditemukan di Hutan Suaka Alam Ruvu Selatan, yang berada sekitar 45 kilometer dari Ibu Kota komersial negeri tersebut, Dar es Salaam.

Meshark mengatakan pada 2001 sekelompok ilmuwan yang bekerja untuk organisasi non-pemerintah Frontier-Tanzania mengumpulkan katak yang kelihatan aneh dari Hutan Ruvu Selatan. Lalu 16 tahun kemudian, satu analisis genetika dan morfologis oleh ilmuwan Inggris Chris Barratt dan Simon Loader mengungkapkan katak itu baru buat ilmu pengetahuan.

Katak tersebut telah diberi nama Hyperolius ruvuensis atau katak alang-alang berduri Ruvu. Katak itu ditemukan di alang-alang dan semak-belukar di daerah rawa lahan rumput terbuka di dalam suaka alam itu. Katak tersebut tak pernah terlihat sejak 2001, meskipun ada survei cepat pada 2015.

"Temuan spesies katak baru ini menyoroti pentingnya Hutan Suaka Alam Ruvu Selatan buat pariwisata terutama buat pencinta hewan amfibi dan peneliti," kata Meshark.

Ia menyeru Badan Layanan Hutan Tanzania (TFS) untuk memberi sumbangan dan melindungi hutan alam serta tanah basah di suaka alam tersebut. Menurut dia, lebih dari 40 persen hutan di Hutan Suaka Alam Ruvu Selatan hilang antara 2000 dan 2011.

Kebakaran dan produksi arang secara tidak sah terus mengakibatkan kerusakan pada habitat alam spesies baru itu. Katak yang digambarkan belum lama ini menawarkan perhitungan menarik mengenai sejarah evolusioner satu kelompok katak alang-alang di wilayah tersebut dengan hubungan dekatnya dengan spesies hutan pegunungan Afromontane Timur.

"Katak yang kami lihat hari ini di Ruvu Selatan tampak seperti relik mengenai habitat hutan yang dulu tersebar luas yang, melalui dampak manusia dan perubahan iklim bersejarah, menjadi terkucil, dan sendirian di hutan pantai Ruvu," kata ilmuwan Kepala Regional IUCN SSC Kelompok Ahli Amfibi Simon Loader.

Sumber : Antara