Kamis , 21 Januari 2016, 03:46 WIB

Ilmuwan Temukan Kandidat Planet Baru di Tata Surya

Rep: c38/ Red: Dwi Murdaningsih
www.blog.unnes.ac.id
Orbit Tata Surya
Orbit Tata Surya

REPUBLIKA.CO.ID, Tata surya kita mungkin akan kedatangan anggota baru. Para ilmuwan akhirnya memiliki bukti kuat tentang Planet X, sebuah planet kesembilan yang berada di pinggiran tata surya kita.

Dilansir dari Science, Kamis (21/1), planet raksasa ini diperkirakan hampir sebesar Neptunus. Benda ini mengorbit miliaran mil di luar jalur Neptunus, cukup jauh hingga membutuhkan waktu 10 ribu sampai 20 ribu tahun untuk mengelilingi matahari.

Akan tetapi, planet ini belum terlihat. Para ilmuwan mendasarkan temuan mereka pada pemodelan matematika dan komputer. Ilmuwan akan mengantisipasi penemuannya melalui teleskop dalam waktu lima tahun mendatang.

Dua ilmuwan kemudian melaporkan penelitian ini pada Rabu (20/1) di Astronomical Journal. Mereka ingin orang-orang membantu mereka mencari keberadaan planet ini. "Kami bisa tetap tenang dan diam-diam menghabiskan lima tahun ke depan mencari di langit sambil berharap untuk menemukannya. Tapi, aku lebih suka seseorang menemukan ini dengan cepat, daripada aku menemukannya nanti-nanti," kata astronom Mike Brown kepada AP.

Para peneliti menyimpulkan kehadiran Planet X dari pengelompokan enam benda tak dikenal yang mengorbit di luar Neptunus. Mereka mengatakan, hanya ada 0,007 persen atau sekitar satu banding 15 ribu peluang kebetulan dalam pengelompokan itu.  

Sebaliknya, para ilmuwan mengatakan, sebuah planet dengan massa 10 kali bumi telah menggiring enam benda ke orbit elips anehnya. "Kami telah menemukan bahwa ada sebuah planet raksasa di luar tata surya," kata Brown.

Istilah di luar tata surya, lanjut Brown, berarti 10 sampai 20 kali lebih jauh dari Pluto. Brown dan Konstantin Batygin, seorang astrofisikawan teoretis di Caltech, yang mengkhususkan diri dalam dinamika tata surya berpikir, Planet X terbentuk pada tahap awal tata surya, sekitar 4,5 miliar tahun lalu.

Jika inti Planet X mampu tinggal di bagian dalam tata surya dan melalui sisa pembentukannya, itu bisa mengumpulkan cukup gas atau es untuk menjadi planet raksasa lain, seperti Jupiter atau Neptunus.

Namun karena inti planet-planet besar lain yang begitu erat di bagian dalam tata surya, tidak ada cukup ruang untuk mereka semua berkembang. Planet raksasa itu pun tersingkir dari wilayah pembentukan planet di dekat matahari, kemudian bergerak ke pinggir orbit elips yang jauh.

Para peneliti bersikeras, tidak akan ada perdebatan seperti perdebatan terhadap Pluto (mengenai planet atau bukan, dan berbagai perdebatan lainnya) ketika planet itu ditemukan nantinya.

"Saya tidak bisa membayangkan kesepakatan yang lebih besar bila--dan tentu saja digarisbawahi 'bila'--ternyata itu benar.  Yang mendebarkan adalah ketika planet itu terdeteksi," kata Gregory Laughlin, seorang ilmuwan tata surya di Universitas California.

Untuk mendeteksi benda langit ini, tim ilmuwan memanfaatkan satu teleskop besar di Hawaii, Subaru. Teleskop 8 meter milik Jepang ini mempunyai area cukup luas untuk mengumpulkan cahaya guna mendeteksi benda-benda samar, ditambah dengan ruang pandang yang 75 kali lebih besar dari teleskop Keck.

baca juga:

Ini Kekhawatiran Stephen Hawking Soal Kemajuan Ilmu Pengetahuan

Satu Abad Berlalu, Bangkai Kapal Selam Jerman Sisa PD I Ditemukan