Jumat, 10 Ramadhan 1439 / 25 Mei 2018

Jumat, 10 Ramadhan 1439 / 25 Mei 2018

AS Bangun Jaringan 5G Nasional Mencegah Penyadapan

Selasa 06 Februari 2018 11:47 WIB

Rep: Nora Azizah/ Red: Winda Destiana Putri

Teknologi jaringan 5G. Ilustrasi

Teknologi jaringan 5G. Ilustrasi

Foto: Techradar
Langkah tersebut bisa memperlihatkan infrastruktur nasional secara mandiri.

REPUBLIKA.CO.ID, Pemerintah Amerika Serikat (AS) berinisiatif membangun jaringan 5G tunggal untuk bersaing dengan Cina. Pejabat pemerintahan administrasi periode Trump melihat peluang untuk mengambil bagian dari pembangunan jaringan super cepat tersebut.

Laman CNBC mengutip laporan dari situs Axios yang berhasil mendapatkan informasi dari dokumen sensitif terkait hal tersebut, dan menginformasikan bahwa AS mempunyai dua pilihan. Pilihan pertama, pemerintah AS bisa membayar dan membangun jaringan seluler 5G, kemudian dapat menyewa akses pada operator nasional.

Langkah tersebut bisa memperlihatkan infrastruktur nasional secara mandiri yang belum pernah ada sebelumnya. Namun belum lama ini versi terbaru dari dokumen sensitif tersebut menyebutkan, pemerintah belum memastikan untuk membangun atau memiliki jaringan yang disebutkan. Seperti diketahui sebelumnya, para pejabat menolak Recode untuk membangun jaringan 5G yang akan menjadi milik pemerintah.

Kemudian pilihan ke dua atau alternatif lain, penyedia layanan nirkabel di AS membangun jaringan 5G tersendiri sehingga akan bersaing satu dengan lainnya. Opsi tersebut disimpulkan akan memakan banyak biaya dan waktu tetapi tidak mengganggu industri secara komersial.

Alasan terbesar AS dalam mempertimbangkan nasionalisasi pada sistem disebabkan Cina yang saat ini telah mencapai posisi terdepan dalam pembuatan dan pengoperasian infrastruktur jaringan. Hal tersebut membuat Cina dianggap sebagai 'aktor berbahaya' yang akan memiliki dokumen informasi paling dominan.

Seorang pejabat pemerintahan AS yang tidak diketahui namanya berkata, pemerintah AS ingin membangun jaringan 5G yang aman. Terkait hal tersebut pemerintah harus bekerja sama dengan beberapa industri untuk mengetahui cara terbaik perihal pembangunan.

"Kami ingin membangun jaringan super aman sehingga Cina tidak bisa mengetahui hal tersebut," ujar pejabat pemerintahan tersebut kepada Reuters, yang kemudian dikutip CNBC. AS harus membangun jaringan agar para 'pendengar asing' tidak bisa mengetahui informasi.

Pemerintah AS mengambil tindakan demikian agar Cina tidak menguasai pasar. Jaringan yang dibuat secara nasional tersebut juga bisa meredam para pemilik jaringan non 5G untuk tidak gulung tikar. Masih banyak perdebatan terkait laporan tersebut. Diperlukan waktu sekitar enam sampai delapan bulan untuk mendapatkan persetujuan presiden. Langkah tersebut juga mendapat respons dari Federal Communications Commision AS berupa peringatan terhadap gagasan jaringan milik pemerintah.

Ketua Federal Communications Commision AS Ajit Pai mengatakan bahwa menentang usulan pemerintah federal untuk membangun dan mengoperasikan 5G nasional. "Jaringan nasional akan melahirkan gangguan yang mahal dan kontraproduktif dari kebijakan yang sudah ada," ujar Pai. Usaha tersebut dinilai akan kontraproduktif terhadap kebijakan AS dalam memenangkan masa depan 5G.

Seperti diketahui, akhir 2017 spesifikasi pertama 5G telah rampung dan menjadi langkah besar untuk mengomersilkan teknologi tersebut. Para pengamat pasar juga memrediksi bahwa teknologi 5G akan memiliki lebih dari 1 miliar pengguna pada 2023 mendatang. Lebih sari setengah pengguna tersebut diprediksi berbasis di Cina. Sementara itu, beberapa operator jaringan di AS diketahui sudah bekerja untuk menerapkan jaringan 5G.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA