Wednesday, 5 Jumadil Akhir 1439 / 21 February 2018

Wednesday, 5 Jumadil Akhir 1439 / 21 February 2018

Aplikasi Google Arts And Culture Bermasalah Mendeteksi Ras

Jumat 02 February 2018 05:45 WIB

Red: Winda Destiana Putri

Google Arts and Culture.

Google Arts and Culture.

Foto: Mashable
Aplikasi ini mampu mencocokkan wajah dalam foto selfie dengan lukisan terkenal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fitur terbaru aplikasi Google Arts And Culture menjadi tren dan perbincangan hangat di antara pengguna Android dan iOS. Betapa tidak, fitur terbaru Google Arts and Culture mampu mencocokkan wajah dalam foto selfie dengan lukisan-lukisan terkenal.

Dalam bekerja, perangkat lunak ini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan mutakhir dan facial recognition untuk menganalisa pola wajah pada foto selfie. Setelah itu, perangkat lunak ini akan mencari wajah-wajah dari lukisan ternama yang memiliki kesamaan pola wajah dengan foto selfie pengguna ponsel.

"Ini merupakan pengalaman yang menyenangkan, apalagi jika Anda mendapatkan hasil yang mirip," ungkap Michael Nunez seperti dilansir Mashable.

Sayangnya, Nunez yang merupakan keturunan Latin Amerika menemukan satu kendala cukup besar pada aplikasi ini. Nunez mengatakan Google Arts and Culture tidak begitu bekerja dengan baik untuk menganalisa wajah orang dari ras-ras berwarna, yaitu ras di luar kulit putih. Selain itu, Nunez juga mengatakan aplikasi ini tidak memiliki banyak data lukisan seniman dari Latin Amerika maupun dari daerah di luar Eropa.

Hal ini diketahui Nunez setelah ia mencoba fitur terbaru Google Arts And Culture. Dengan sengaja, Nunez mengambil beberapa foto selfie untuk melihat kemiripan wajahnya dengan wajah dalam lukisan-lukisan terkenal di dunia.

Dari lima hasil pencocokan foto dan lukisan yang didapatkan Nunez, tiga di antaranya merupakan lukisan wajah orang berdarah Eropa dan dua lainnya merupakan lukisan wajah orang berdarah Asia. Padahal, Nunez memiliki wajah keturunan Latin Amerika.

"Seharusnya aku bisa memperkirakan hal ini akan terjadi," tambah Nunez.

Nunez mengatakan secara historis koleksi karya seni lukis kerap berpusat pada seni-seni Eropa. Sebut saja sosok Van Gogh, Picasso, Monet, Da Vinci dan Matisse. Beberapa kolektor lukisan juga mengumpulkan karya seni dari Asia. Namun, sebagian besar karya dari Latin Amerika masih terabaikan.

Baca juga: Google Larang Pengguna Mem-posting Ulasan Negatif Kantornya

Hal ini bisa dilihat dengan mudah dari karya-karya seni yang sudah digitalisasi oleh Google Arts And Culture. Ada lebih dari 700 ribu karya seni yang berasal dari Amerika Serikat, 75 ribu dari Inggris dan hampir 60 ribu dari Jerman. Akan tetapi, hanya ada sekitar 16 ribu karya seni dari Meksiko, dan 3.500 karya dari Peru. Dari sini dapat dilihat betapa ada kecondongan dalam data yang dimiliki Google Arts and Culture. Padahal, Meksiko merupakan rumah dari kota-kota yang kaya akan budaya.

"Ini terlihat seperti aplikasi tentang seni budaya yang menyenangkan tetapi sebenarnya berat sebelah dan sedikit rasis," terang Nunez.

Nunez mengatakan proyek ini lebih berfokus pada karya seni asal Amerika, Eropa dan Asia. Secara tak langsung, Nunez menilai proyek ini menyatakan bahwa karya seni dari belahan negara lain di dunia tidak lebih berharga dari karya seni yang berasal dari Amerika, Eropa dan Asia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA