Sunday, 4 Jumadil Awwal 1439 / 21 January 2018

Sunday, 4 Jumadil Awwal 1439 / 21 January 2018

Kasus Keamanan Siber Ini Bikin Heboh Sepanjang 2017

Rabu 27 December 2017 08:31 WIB

Rep: Dian Erika Nugraheny / Red: Reiny Dwinanda

Tampilan halaman utama website Telkomsel yang dipenuhi kata-kata tidak etis pada Jumat (28/4) pagi.

Tampilan halaman utama website Telkomsel yang dipenuhi kata-kata tidak etis pada Jumat (28/4) pagi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar Keamanan Siber, Pratama Persadha, mengatakan kejadian di 2017 menjadi penanda bagi semua pihak khususnya pemerintah untuk lebih serius memperhatikan isu keamanan siber. 

Terlebih, Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure/Coordinator Center (Id-SIRTII/CC) mencatat, hingga November 2017, Indonesia mendapat sebanyak 205.502.159 serangan keamanan siber.

Pada awal Februari 2017, masyarakat semua dikagetkan dengan adanya usaha peretasan terhadap Komisi Pemilihan Umum saat proses perhitungan suara Pilkada DKI Jakarta putaran pertama. Peristiwa itu disusul oleh kasus peretasan pada laman Telkomel dan Kejaksaan.

Tak hanya berhenti di situ, pada bulan Mei seluruh dunia, termasuk di Indonesia, mengalami serangan ransomware Wannacry. 

Selang beberapa bulan, ransomware dengan model yang nyaris serupa, bernama Nopetya, juga menyerang.

Pratama menjelaskan, fenomena keamanan siber ini telah berdampak pada pengguna individu. Oleh karena itu, pemerintah harus mengedukasi masyarakat.

Isu pornografi di Whatsapp, pemblokiran Telegram, dan juga registrasi SIM card adalah bukti bahwa isu keamanan siber ini sudah menyentuh langsung individu masyarakat. 

"Tinggal sekarang PR besarnya sejauh dan sedalam apa negara bisa masuk serta mengedukasi masyarakat. Tanpa keterlibatan dan kesadaran masyarakat, sulit menciptakan keamanan siber yang kuat dan paripurna," jelas Ketua lembaga riset keamanan siber CISSReC (Communication and Information System Security Research Center) tersebut dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Selasa (26/12).

Kecenderungan di 2018

Serangan siber yang bisa langsung menginfeksi smartphone juga harus menjadi perhatian serius.

Ransomware yang akan masif menyerang ke depan diperkirakan juga sudah bisa menginfeksi smartphone Android dan juga iOS pada iPhone. 

Pratama mengungkapkan, dari bocoran Wikileaksmalware semacam itu memang sudah dikembangkan oleh CIA, sehingga Indonesia memang sudah sepatutnya waspada.

Ancaman serangan pada individu memang diperkirakan akan terus naik tajam. Perkembangan teknologi membuat adopsi Internet of Things (IoT) semakin tinggi. 

Belum lagi penggunaan smartphone untuk transaksi semakin meningkat. Tren itu terlihat dari gencarnya investasi di sektor ini, seperti investasi Jack Ma di Tokopedia.

"Semua perkembangan ini wajib diikuti dengan peningkatan keamanan siber di semua aspek," ujar Pratama.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA