Ahad , 03 December 2017, 14:32 WIB

Bagaimana Tren e-Commerce Tahun Depan? Ini Prediksinya

Rep: Nora Azizah/ Red: Hazliansyah
Republika/Mahmud Muhyidin
Calon pembeli melihat koleksi fashion terbaru mealui salah satu gerai E-Commerce melalui telfon genggamnya di Jakarta, Senin (31/7).
Calon pembeli melihat koleksi fashion terbaru mealui salah satu gerai E-Commerce melalui telfon genggamnya di Jakarta, Senin (31/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perpindahan cara konsumen berbelanja dari toko offline ke online shopping terjadi dengan kecepatan eksponensial.

Menurut data dari Google dan Temasek yang telah diolah platform enabler aCommerce, pertumbuhan tersebut sekitar 32 persen setiap tahun untuk 10 tahun ke depan. Peningkatan tersebut membuat pemain raksasa, seperti Alibaba, Amazon, dan JD.com mulai melirik pasar Asia Tenggara.

Pertumbuhan pasar tersebut juga menjadi peluang bagi aCommerce untuk memperluas wilayah bisnis. Platform aCommerce merupakan layanan pendukung e-commerce, khususnya dalam menyediakan logistik, pergudangan, hingga pemasaran.

Co-founder dan Chief Executive Officer (CEO) Group aCommerce Paul Srivorakul mengatakan, pertumbuhan pasar tersebut menciptakan sebuah tren baru bagi industri e-commerce untuk beberapa tahun ke depan.

Bagi sebuah label yang baru memasuki 'dunia baru' untuk go online, dulu memiliki hanya satu laman situs saja sudah cukup. Namun beberapa tahun kemudian percepatan teknologi membuat label menyadari adanya perubahan alur. Untuk menjadi yang terdepan, sebuah label harus menunjukkan eksistensi dalam semua kanal penjualan.

"Mereka menjadi 'haus' data untuk mengontrol harga dan kedekatan dengan konsumen," ujar Paul dalam acara Diskusi Media 'Tren Ecommerce 2018' di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Para pelanggan ingin mengakses produk tanpa terikat ruang dan waktu. Melalui platform daring, hal tersebut bukan tidak mungkin dilakukan. Para brand bisa memanfaatkan keahlian aCommerce untuk melakukan hal tersebut.

Sepanjang 2017 beberapa label, seperti Mars, Nestle, dan Unilever yang telah bermitra dengan aCommerce resmi memperluas kanal di luar offline ke seluruh wilayah Asia Tenggara.

Paul menyebutkan, aCommerce bisa memberikan ekosistem bagi perusahaan untuk mengumpulkan dan memiliki data konsumen. Sejak dua tahun lalu aCommerce sudah melakukan pencarian pendanaan seri B dengan target perolehan pendanaan sebesar 65 juta dollar AS.

Platform e-commerce enabler dan e-distributor aCommerce mulai melakukan ekspansi. Platform tersebut berhasil mendapatkan pendanaan seri B sebesar 65 juta dollar AS. Platform asal Thailand tersebut bahkan sudah mengumumkan penutupan babak pendanaan seri B tersebut.

Babak pendanaan terbaru tersebut dipimpin oleh Emerald Media sebagai platform Pan-Asian. Emerald Media berdiri di atas firma Investasi Global dan KKR untuk berinvestasi pada industri berkembang di Asia.

Pendanaan babak tersebut juga berasal dari partisipasi investor lain yang sebelumnya sudah bergabung, seperti Blue Sky, MDI Vendtures, dan DKSH. Investasi sebesar 65 juta dollar AS tersebut akan digunakan aCommerce untuk memperluas lahan bisnis.