Sabtu , 14 Oktober 2017, 09:43 WIB

Blockchain Sebagai 'The Next Internet'

Rep: Nora Azizah/ Red: Esthi Maharani
EPA
Metode pembayaran dengan Bitcoin sudah populer di sejumlah negara. Seperti terlihat ATM Bitcoin di Selandia Baru.
Metode pembayaran dengan Bitcoin sudah populer di sejumlah negara. Seperti terlihat ATM Bitcoin di Selandia Baru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA.- Perbedaan blockchain dengan internet yang ada sekarang, yakni pada pusat penyimpanan. Internet saat ini sangat terpusat atau semua aktivitas tersimpan di dalam pusat server. Salah satu kekurangannya, bila server diserang penjahat siber maka seluruh operasional organisasi atau perusahaan akan terganggu. Namun blockchain mampu menghindari risiko tersebut. Apabila seorang penjahat siber mencoba meretas jaringan maka dibutuhkan minimal 50+1 persen node server yang harus diserang.

Penyerang membutuhkan biaya yang sangat besar serta peralatan canggih hanya untuk memanipulasi satu transaksi saja. Jaringan blockchain terdistribusi dengan aman dan baik. Semua pihak akan langsung terhubung di dalam jaringan tanpa membutuhkan bandwith yang besar serta infrastruktur canggih. Setiap node dari blockchain bisa terhubung hanya dengan jaringan wifi saja.

Sejauh ini teknologi blockchain memang dikenal untuk mata uang digital, seperti Bitcoin, Litecoin, Ether, Kypt, dan lainnya. Namun pada dasarnya teknologi tersebut bisa digunakan hampir untuk semua industri. Misalnya, dalam industri kesehatan blockchain bisa dipakai sebagai rekam medis. Seorang dokter bisa membuka riwayat kesehatan pasien dengan meminta izin terlebih dahulu.

Pada industri perdagangan blockchain bisa membantu dalam melakukan verifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI). Blockchain memang teknologi yang tidak dapat dilihat secara langsung. "Tapi manusia bisa merasakan manfaatnya," jelas Tata. Seperti uang digital, pemegangnya tidak bisa melihat bentuk uang secara fisik seperti uang kartal tetapi ada nilai yang mengikat di dalamnya. Blockchain bisa dijadikan alat transaksi untuk jual beli barang, bahkan ditukar ke dalam uang kartal melalui bursa aset digital.

Indonesia sedang membangun ekonomi digital dengan harapan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Sudah seharusnya Indonesia bisa mengadopsi blockchain dengan cepat. Meski demikian tantangan terbesar saat ini terkait regulasi, khususnya untuk uang digital. Dari sisi teknologi dan protokol seharusnya blockchain bisa diterapkan secara langsung tanpa membutuhkan regulasi.

Namun untuk mata uang digital memang diperlukan kebijakan dari pemerintah, khususnya dari Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta PPATK. Blockchain akan mendisrupsi banyak industri, dan institusi perbankan yang paling terkena imbasnya terutama dalam melakukan transfer uang. Fungsi bank diprediksi hanya akan menjado tempat penyimpanan uang dan tidak akan terganggu.

Blockchain juga sudah diterapkan oleh beberapa perusahaan untuk Internet of Things (IoT), salah satunya IOTA. Dampak blockchain tersebut akan membuat proses distribusi data lebih cepat. Perangkat akan terhubung secara langsung dan proses pertukaran informasi serta nilai menjadi lebih efisien. Blockchain juga diprediksi akan bermanfaat bagi banyak industri lain di masa depan.