Rabu , 11 October 2017, 15:49 WIB

Enkripsi Bisa Kurangi Tingkat Perompakan di Samudra Hindia

Red: Dwi Murdaningsih
©androidspin.com
Enkripsi data (ilustrasi)
Enkripsi data (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI -- Keamanan siber bisa mengurangi tingkat perompakan di Samudra Hindia. Pakar keamanan siber Pratama Persadha mengatakan kawasan Samudra Hindia rawan konflik. Salah satu contoh yang nyata adalah konflik antara Saudi dengan Qatar yang diawali dengan isu peretasan pada Qatar News Agency. Selain itu juga masalah perompakan menjadi pekerjaan rumah yang serius.

Menurut Pratama, kedua masalah tersebut tidak bisa lepas dari masalah keamanan siber di masing-masing negara. Standar keamanan siber yang masih belum tercapai dengan baik memudahkan adanya upaya spionase, perusakan dan pencurian infomasi.

Dia mengatakan potensi konflik yang sudah besar di kawasan akan bertambah besar bila negara-negara di kawasan Samudra Hindia tidak menyamakan persepsi tentang pentingnya keamanan siber.

“Setiap negara perlu mempunyai badan siber dan juga pusat operasinya, bisa berupa Security Operation Center (SOC) yang berfungsi mendeteksi, menganalisa dan juga memperkuat pertahanan siber setiap negara. Jadi tidak hanya bereaksi saat ada peretasan saja,” kata chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC (Communication and Information System Security Reserach Centre) ini.

Dalam acara Dialogue Indian Ocean di Abu Dhabi Selasa (10/10), Pratama melihat masih tingginya perompakan di kawasan Samudra Hindia karena para perompak ini juga menguasai teknologi. Minimal mereka memiliki scanner radio yang bisa memonitoring percakapan antar kapal yang melintas. Kapal-kapal ini seharusnya dilengkapi teknologi enkripsi pada radio yang digunakan agar perompak kesulitan memantau komunikasi mereka.

“Perompak ini juga tidak bekerja sendiri, ada pihak-pihak yang membantu menyuplai informasi. Pihak-pihak ini mengerti teknologi, bahkan peretasan bisa dilakukan bila memang diperlukan data yang penting yang tidak dimuat bebas di internet,” kata Pratama.

Selama ini kapal tanker adalah salah satu objek yang paling sering disasar oleh perompak. Dengan adanya enkripsi dan penguatan pertahanan siber di setiap negara, diharapkan bisa mempersempit dan mempersulit perompak untuk mendapatkan informasi.

 

Berita Terkait