Senin , 19 Juni 2017, 15:36 WIB

Google Perkeras Langkah Waspadai Konten Garis Keras

Red: Indira Rezkisari
EPA
Google
Google

REPUBLIKA.CO.ID, Google Alphabet Inc akan menerapkan lebih banyak langkah untuk mengenali dan menghapus muatan garis keras "teroris" atau kekerasan di laman berbagi video YouTube. Demikian tutur perusahaan tersebut melalui pernyataan, yang diunggah di "blog" pada Ahad (18/6).

Google mengatakan akan mengambil sikap lebih keras dalam video mengandung muatan kekerasan keagamaan dengan mengeluarkan peringatan dan tidak memperoleh uang atau menyarankannya diikuti. Meskipun mereka tidak secara jelas melanggar kebijakan tersebut.

Perusahaan itu juga akan menggunakan lebih banyak tenaga teknik dan meningkatkan penggunaan teknologi mengenali video pegaris keras. Selain melatih tenaga baru penggolong muatan untuk mengenali dan menghapus isi semacam itu dengan cepat.

"Sementara kami dan pihak lain bekerja bertahun-tahun untuk mengenali dan menghapus muatan melanggar kebijakan, kenyataan tidak mengenakan adalah bahwa kami sebagai industri harus menyadari bahwa semakin banyak yang harus dilakukan. Sekarang juga," kata penasihat umum Google Kent Walker.

Google akan memperluas kerja sama dengan kelompok kontra-ekstremis untuk mengidentifikasi konten yang dapat digunakan untuk membuat radikalisasi dan perekrutan ekstremis, katanya.

Perusahaan juga akan menjangkau calon ISIS dengan menyasar iklan daring dan mengalihkannya ke video anti-teroris. Harapannya bisa mengubah pemikiran mereka untuk bergabung dengan kelompok tersebut.

Jerman, Prancis dan Inggris, negara-negara di mana warga sipil terbunuh dan terluka dalam pemboman dan penembakan oleh militan dalam beberapa tahun terakhir, telah menekan Facebook dan penyedia media sosial lainnya seperti Google dan Twitter untuk berbuat lebih banyak untuk menghapus konten militan dan ucapan kebencian.

Facebook pada hari Kamis menawarkan pengetahuan tambahan tentang upayanya untuk menghapus konten terorisme, sebuah tanggapan terhadap tekanan politik di Eropa terhadap kelompok militan yang menggunakan jejaring sosial untuk propaganda dan rekrutmen.

Facebook menggenjot penggunaan kecerdasan buatan, seperti, pencocokan gambar dan pemahaman bahasa untuk mengenali dan menghapus muatan dengan cepat, kata perusahaan itu dalam pernyataan di "blog".





Sumber : Antara

Berita Terkait