Kamis , 18 May 2017, 18:17 WIB

Medsos Dinilai Turut Berperan Sebar Radikalisme dan Terorisme

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Winda Destiana Putri
ist
Media sosial
Media sosial

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Gencarnya informasi yang belum tentu kebenarannya tersebar di media sosial (medsos) turut berperan dalam penyebaran radikalisme dan terorisme yang terjadi selama ini. Media sosial (nonpers) lebih memberikan ruang tindakan tersebut dibandingkan media pers.

"Media nonpers (sosial) berpeluang dalam penyebaran radikalisme dan terorisme. Karena masyarakat lebih mudah mendapatkannya dan menyebarkannya," kata Ketua Forum Koodinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Lampung Abdul Syukur pada acara Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat, berlangsung di Bandar Lampung, Kamis (18/5).

Menurutnya, informasi atau berita hoax (bohong) lebih cepat menyebar di media nonpers dibandingkan media pers, sehingga banyak dari kalangan masyarakat yang terprovokasi dengan informasi tersebut tanpa ada upaya untuk bertabayyun atau mengecek kebenarannya.

Abdul Syukur mengatakan, masyarakat yang mudah terprovokasi sangat cepat berubah dari kebiasaan yang tidak seharusnya. Untuk itu, penyebaran berita atau informasi yang belum valid hendaknya dilakukan pengecekan kebenarannya terlebih dahulu, tidak langsung disebarkan atau ditelan mentah-mentah.

Ia mencontohkan seorang warga penjual es cincau di Kabupaten Lampung Tengah, tiba-tiba berubah pemahamannya dalam waktu singkat. Ia bertindak dan berlaku tidak seperti biasanya di keluarganya, tiba-tiba ia berangkat ke negara yang berkonflik di Timur Tengah. “Motif radikalisme dan terorisme itu tidak memandang kaya dan miskin, pintar dan tidak pintar. Semua bisa terprovokasi bila tidak memahami informasi yang tersebar,” ujarnya.