Tuesday, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 February 2018

Tuesday, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 February 2018

Google Paparkan Kecerdasan yang Bukan Magic, Seperti Apa?

Selasa 10 November 2015 14:54 WIB

Red: Indira Rezkisari

Google sedang mengembangkan kecerdasan buatan dalam bentuk Machine Learning. Ada tiga elemen yang jadi perpaduan komponennya.

Google sedang mengembangkan kecerdasan buatan dalam bentuk Machine Learning. Ada tiga elemen yang jadi perpaduan komponennya.

Foto: flickr

Oleh : Agung Sasongko dari Tokyo, Jepang.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Sejumlah film fiksi ilmiah menggambarkan seperti apa kecerdasan buatan (artificial inteligent). Bagaimana perkembangannya saat ini?

Senior Research Scientist Google Inc, Greg Corado mengatakan, kecerdasan buatan telah mengalami evolusi menuju bentuk fungsional. Dalam bahasa Google, pengembangan kecerdasan buatan itu disebut Machine Learning.

"Apa bedanya, apakah komputer tahu bagaimana mengindentifikasi gambar," kata dia Greg pada acara The Magic In The Machine di Mori Building, Tokyo, Jepang, Rabu (10/11).

Menurut Greg, Machine Learning ini dikembangkan dengan memadukan tiga elemen penting yakni data, model, dan komputer. Ketiga elemen ini membuat Machine Learning mengenal lingkungan sehingga mampu memberikan prediksi.

Cara bekerjanya sangat berjenjang dan mengalami pengulangan melalui data-data yang berkembang.‎"Bila diibaratkan Machine Learning ini seperti mesin roket," kata dia.

Maksudnya, kata dia, mesin roket secara bertahap melalui input data berupa jumlah bahan bakar, ‎berapa kecepatan yang ingin dicapai. Kemudian memberitahu bagaimana tanda bahan bakar roket tersebut habis. "Jadi, ini bukan magic tapi ada alat yang mampu berbicara, peduli, dan kreatif untuk sesuatu yang sangat berguna," kata dia.‎

‎Greg mengatakan, Machine Learning yang dikembangkan Google bisa dimanfaatkan siapapun. Google mengakomodir kebutuhan itu dengan memperkenalkan aplikasi open source, Tensor Flow tadi malam.

Menurutnya, aplikasi ini memungkinan siapapun membuat Machine Learning. Ini karena, sistem ini fleksibel untuk segala bentuk riset dan bisa digunakan untuk berbagai produk.  "Fleksibel karena aplikasi ini Apache 2.0 open source license," kata dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA