Ahad , 12 November 2017, 14:46 WIB

Cara Berpikir Suprarasional Merambah ke Filipina

Red: Gita Amanda
Dok istimewa
Raden Ridwan Hasan Saputra menjadi pembicara dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP swasta se-Kota Depok.
Raden Ridwan Hasan Saputra menjadi pembicara dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP swasta se-Kota Depok.

REPUBLIKA.CO.ID, DAVAO CITY -- Seisi ruangan dibuat terpukau dengan paparanMotivator suprarasional, Raden Ridwan Hasan Saputra melalui acara yang bertajuk Supra Rational in Teaching Math for Teacher. Sesi sharing disampaikan di hadapan 120 peserta seminar dengan latar belakang guru, kepala sekolah, dan para team leader dari berbagai negara peserta International Teenagers Mathematics Olympiad 2017, pada Jumat (10/11) lalu di Davao City, Filipina.

"Selama ini ada asumsi keliru dari orang tua tentang makna pandai matematika. Matematika diasumsikan sekadar ilmu berhitung. Anak yang pandai berhitung, maka diasumsikan pandai bermatematika. Padahal esensi matematika bukan berhitung, tetapi kesepakatan terhadap aturan-aturan," ujar Ridwan HS yang menyebut ini dengan istilah ‘Matematika tanpa Angka’.

Dalam mengkaji matematika, menurutnya, para siswa diharapkan menyepakati dan mengikuti aturan dan setiap siswa tidak boleh melanggar aturan jika mereka tidak ingin mendapatkan hukuman atau disalahkan oleh gurunya.

Sebenarnya dalam ruang kehidupan nyata pun, siswa diharapkan jadi sosok yang patuh pada aturan dan kesepakatan bersama. Matematika tanpa angka adalah pelajaran yang mengajarkan siswa menjadi orang yang taat hukum, norma, dan menjunjung tinggi nilai moral.

Ridwan HS mengatakan, sikap moral dan taat aturan merupakan wujud nyata dari tingkat spiritualitas dan kecerdasan emosional. Orang tua yang mengajarkan anak mereka norma dan moral yang baik sejak dini, maka orang tua tersebut hakikatnya sudah mengajarkan matematika tanpa angka.

“Belajar norma dan sikap moral yang baik itu lebih penting diajarkan dan dididik lebih awal daripada belajar konten matematika. Ketika anak belajar sikap moral yang baik, daya nalar anak akan meningkat dan membuat anak akan mudah memahami pelajaran matematika (matematika dengan angka) di sekolahnya," ujar Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA ini kepada para peserta seminar.  

Salah seorang guru yang menjadi peserta seminar Virgil Y. Batos mengaku sangat tertarik untuk lebih mendalami ilmu suprarasional yang disajikan Ridwan. Menurutnya, cara berpikir suprarasional adalah cara berpikir yang jika diterapkan akan membuat guru dapat memberikan layanan pembelajaran terbaik untuk para siswa. Mengajarlah dengan sepenuh hati agar siswa dapat terbantu untuk lebih menyenangi dan memahami pelajaran matematika.

"Matematika itu tidak sulit. Syaratnya, guru harus punya beragam strategi dan sikap mengajar yang baik. Itu hal penting yang saya dapatkan dari presentasi Pak Ridwan,” ujar Virgil.

Senada dengan ungkapan Virgil, seorang kepala sekolah bernama Concordia S. Talaid menyatakan rasa suka cita atas penyajian materi dari Ridwan HS. Menurutnya topik materi tentang cara berpikir suprarasional sangat bermanfaat, sebab ia menjadi semakin memahami cara yang harus dilakukan seorang guru untuk membuat para siswanya mencintai matematika. "Saya juga sepakat bahwa anak-anak tak cukup hanya dipenuhi kebutuhan raganya (pangan, sandang, papan), tetapi harus dipenuhi juga kebutuhan jiwanya (beribadah pada Tuhan)," ujarnya.