Sabtu , 12 August 2017, 17:37 WIB

Peserta Fun Science Republika Belajar Membuat 'Pelangi'

Rep: Muhyiddin/ Red: Qommarria Rostanti
Republika/ Wihdan Hidayat
 Sejumlah anak-anak mengikuti pelatihan edukasi saat Fun Science Republika di Kantor Harian Republika, Jakarta, Sabtu (12/8)..
Sejumlah anak-anak mengikuti pelatihan edukasi saat Fun Science Republika di Kantor Harian Republika, Jakarta, Sabtu (12/8)..

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Puluhan anak sekolah dasar mengikuti kegiatan Republika Fun Science di Gedung Republika, Warung Buncit, Jakarta, Sabtu (12/8). Acara ini menjadi ajang liburan bagi anak-anak sambil belajar ilmu pengetahuan alam dan matematika.

Sekitar pukul 09.00 WIB, tampak para orang tua siswa memenuhi gedung lantai dasar gedung Republika. Ibu-ibu tersebut menunggu anak-anak mereka yang sedang bermain bersama beberapa guru dari Klinik Pendidikan MIPA (KPM).

Salah satu orang tua peserta, Ria (40) mengatakan, sudah dua kali ikut kegiatan Republika Fun Science. Namun, kali ini dia mengantarkan anaknya karena atas permintaan anaknya sendiri. Menurut dia, anaknya sangat senang belajar sambil belajar. "Anak saya memang suka karena untuk memberikan enjoy-nya dia. Memberikan ilmu matematika dengan cara bermain, dia sendiri yang ingin," ujarnya saat berbincang dengan Republika.co.id.

Istri polisi dari Depok ini mengatakan, anaknya yang bernama Haikal Muhammad Royyan (10 tahun) lebih senang ikut kegiatan ini dibandingkan belajar di sekolah. Apalagi, kata dia, saat mengikuti kegiatan yang pertama, anaknya menang lomba matematika dalam acara tersebut. "Waktu itu kan dapet bingkisan banyak juga. Dan dia itu memacu. Terus ada fun science, dia mau ikut lagi," kata Ria.

Di dalam ruangan, tampak anak-anak tengah sibuk belajar berkelompok. Di sekitar mereka terdapat beberapa alat permainan pelajaran IPA dan Matematika. Kegiatan kali ini bertema 'Belajar dengan Permainan Sudoku, PBM, Tangram, juga Roket Kantung Teh dan Pelangi'.

Salah satu peserta, Noah (8 tahun) merasa sangat senang belajar dalam kegiatan itu. Menurut dia, di sekolahnya tidak pernah diajarkan matematika sambil bermain tangram, yaitu permainan yang paling tua yang dikenal dalam matematika. "Nggak ada di sekolah permainan kayak gini. Senang belajar di sini, sambil bermain," kata siswa kelas IV SD tersebut.

Salah seorang pengajar sekaligus staf Litbang KPM, Ina Ana Khoeriah (28 tahun) mengatakan, animo masyarakat sangat tinggi untuk mengikutkan anaknya dalam kegiatan ini. Namun, pihaknya hanya mampu mengajari 75 siswa. "Sampai tadi malam itu masih ada yang daftar baik di kami maupun di Republika. Tapi kalau sudah memenuhi kuota 75, kami tutup," ujarnya.

Saat mengajar siswa, Ina mencoba memperkenalkan alat-alat yang digunakan untuk membuat pelangi, seperti tujuh buah gelas, tanung reaksi atau mangkuk, dan pipet. Dengan pelajaran ini, kata dia, anak-anak akan dapat membuat pelangi sendiri di rumah.

Sebelum anak-anak mempraktikkan, dia pun mempersiapkan bahan yang terdiri dari air, sabun cair, dan pewarna makanan (merah, kuning, dan biru). Setelah itu, puluhan anak-anak itu pun dibagi beberapa kelompok untuk belajar. "Pembuatan pelangi ini lebih ke massa sih, sama proses pembentukan pelangi itu sendiri," ujarnya.

Guru lainnya di bidang Matematika, Rathri Candra Dewi  (34 tahun) mengajarkan bidang matematika dalam permainan sudoku, tangram, dan juga permainan berlian matematika. Dia berharap, melalui tiga permainan tersebut anak-anak lebih menyukai pelajaran matematika. "Harapannya anak-anak dengan permainan matematika ini untuk yang tadinya kurang menyukai matematika, mereka jadi suka matematika, tertarik," kata Rathri.

Menurut dia, anak-anak akan suka terhadap matematika karena dirinya menyajikan pengajaran dalam bentuk yang berbeda. Tidak hanya lewat buku dan menghitung angka satuan saja, tapi juga melalui permaiman yang menarik.  "Kalau khusus PBM, karena itu kita pakai angka-angka juga. Jadi itu lebih mengasah kemampuan mereka berhitung. Karena di situ ada bilangan positif ada bilangan negatifnya juga," ujarnya.

Dalam kegiatan ini, hadir Wakil Pemimpin Redaksi Republika, Nur Hasan Murtiaji, dan juga dipantau langsung oleh Pendiri Klinik Pendidikan MIPA (KPM), Ridwan Hasan Saputra. Ridwan mengatakan melalui kegiatan fun science ini, selain dapat menumbuhkan semangat belajar anak dalam matematika dan IPA, juga dapat menambah tabungan jiwa. Menurut dia, anak-anak akan diajak berusaha keras mendapatkan sesuatu dengan cara yang baik dan atas ridha Allah SWT.

Penjelasan terkait tabungan jiwa ini telah dijelaskan Ridwan dalam buku yang ditulisnya yang berjudul Cara Berpikir Suprarasional. "Jadi tabungan jiwa adalah tabungan amal saleh yang berguna untuk kesuksesan mereka di masa depan," kata Tokoh Perubahan Republika 2013 ini.