Ahad , 30 Juli 2017, 16:45 WIB

Guru Muhammadiyah Berlatih Matematika Bela Negara

Red: Qommarria Rostanti
Dok KPM
Suasana pelatihan matematika bela negara.
Suasana pelatihan matematika bela negara.

REPUBLIKA.CO.ID,  BOGOR -- Puluhan guru Muhammadiyah mengikuti pelatihan matematika bela negara yang diselenggarakan Klinik Pendidikan MIPA (KPM). Kegiatan yang diselenggarakan Rabu (26/7) hingga Jumat (28/7) di Padepokan Amir Syahrudin ini bertujuan membina kompetensi akademik, nilai-nilai kemanusiaan, dan membangun jiwa nasionalisme.

Pelatihan Guru Matematika Bela Negara (GMBN) ini diikuti oleh 29 guru SD hingga SMA dengan penuh antusias. Peserta angkatan pertama dalam pelatihan GMBN ini berlatih memahami konsep cara berpikir suprarasional, matematika nalaria realistik, serta sistem metode seikhlasnya untuk dikontribusikan dalam upaya bela negara.

Sekretaris Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi DKI Jakarta,
Gufron Amirullah, mengaku senang dan mengapresiasi gagasan dan kiprah KPM karena telah membuat program tepat untuk menciptakan generasi dan sumber daya manusia yang cerdas, kreatif dan cinta tanah air.
Tentunya, kata dia, untuk menggapai tujuan tersebut harus ada upaya sungguh-sungguh untuk membekali para guru dengan keterampilan cara berpikir suprarasional dan keterampilan menerapkan pembelajaran dengan metode matematika nalaria realistik.

"Harapannya, guru bisa mentransfer dan mentransformasi bekal ilmu yang diperoleh di ruang-ruang kelas pembelajaran," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Ahad (30/7).

Selain itu, Ghufron berharap nilai baik yang dimiliki oleh KPM dari perpaduan konsep berpikir suprarasional dan matematika nalaria realistik, menjadi pemacu agar guru tidak hanya mengajar tetapi memiliki nilai kompetensi, spiritualitas, dan jiwa nasionalisme.

Guru SD Kemala Bhayangkari Balikpapan, Recca Sankly Yuswanti senang mendapat undangan dari PWM DKI Jakarta dan bisa hadir dalam kegiatan ini. Dia mengaku mendapatkan pengalaman berharga untuk bisa menunjukkan sikap bela negara melalui pembelajaran matematika yang menyenangkan yang selama ini jarang dia dapatkan di Kalimantan.

Dia bersyukur karena masih ada lembaga seperti KPM yang berpikir untuk bangsa. "KPM memiliki perhatian terhadap upaya strategis menciptakan generasi Indonesia yang  berakhlak baik dan berkompeten di bidang ilmu matematika dan IPA sehingga dapat bersaing di ajang kompetisi nasional maupun internasional," kata dia.

Pada akhir pelatihan, ketua pelatih, Moh Arodhi memaparkan bahwa kegiatan ini didedikasikan untuk mempersiapkan guru-guru agar memiliki kepedulian dalam menanamkan dan membangun jiwa bela negara kepada anak didiknya. Oleh karena itu, setiap guru dibekali pemahaman dasar tentang esensi dan makna UUD NRI 1945, Pancasila, Bineka Tunggal Ika, NKRI, serta sejarah perjuangan bangsa.

"Metode pelatihan dirancang untuk membantu para guru dapat menginternalisasi jiwa bela negara dan bisa menerjemahkannya  di tataran praksis pendidikan," kata Arodhi.

Dengan menggabungkan konsep pembelajaran matematika nalaria realistik, permainan bela negara dan berpikir suprarasional, Indonesia diharapkan memiliki generasi cemerlang. "Generasi yang dapat melanjutkan cita-cita perjuangan bangsa dengan kemampuan berpikir yang baik dan memperjuangkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Arodhi.