Tuesday, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 February 2018

Tuesday, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 February 2018

Jepang Ciptakan Drone untuk Ingatkan Pekerja Waktu Pulang

Senin 11 December 2017 10:43 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Winda Destiana Putri

T-Frend Drone

T-Frend Drone

Foto: Japantimes

REPUBLIKA.CO.ID, NAGOYA --Sebuah pesawat tak berawak (Drone) Jepang bernama 'T-Frend', digunakan untuk memaksa karyawan yang bekerja terlalu keras untuk pulang ke rumah. Drone tersebut terbang di sekitar kantor dan mengeluarkan musik dengan suara keras.

Alat tersebut dibuat oleh kantor keamanan dan pembersihan. 'T-Frend' mengeluarkan musik yang kerasa karena mereka yang berusaha bekerja lembur. Bahkan, sebuah lagu asal Skotlandia sempat digunakan di Jepang untuk mengumumkan bahwa sebuah toko tutup.

T-Frend ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengurangi jam kerja yang terkenal panjang. Tapi para ahli telah menilai ide tersebut 'konyol', dengan mengklaim pekerja hanya akan pulang jika mereka terpaksa pergi.

Baca juga: Drone Berpenumpang Diunggulkan Sebagai Solusi Mobilitas

Taisei, sebuah perusahaan keamanan dan pembersihan yang berbasis di Nagoya yang mengembangkan sistem ini, berencana untuk memulai layanan T-Frend pada bulan April bekerja sama dengan pengembang sistem drone Blue Innovation.

''Anda tidak bisa benar-benar bekerja saat Anda berpikir 'ini akan datang kapan saja sekarang' dan mendengar 'Auld Lang Syne' (lagu Skontlandia), bersamaan dengan dengungannya,'' kata Norihiro Kato, seorang direktur di Taisei, sebuah kantor keamanan dan perusahaan pembersih yang bersama-sama mengembangkan sistem ini, dikutip dari Dailymail.

Biaya untuk layanan ini belum ditetapkan secara resmi. Namun diprediksi sekitar 4.500 Dolar AS per bulan. Pakar juga tidak terkesan dengan gagasan tersebut. Scott North, profesor sosiologi di Universitas Osaka mengatakan, para pekerja tidak akan pulang ke rumah jika pekerjaan mereka belum selesai.

''Untuk mengurangi waktu lembur, perlu mengurangi beban kerja, baik dengan mengurangi tugas membuang-buang waktu dan kompetisi atau dengan mempekerjakan lebih banyak pekerja,'' ujar Scott.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA