Kamis , 09 November 2017, 16:12 WIB

Uber Gandeng NASA Kembangkan Taksi Udara

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Dwi Murdaningsih
Dailymail
Airbus Luncurkan Taksi Udara UberAir.
Airbus Luncurkan Taksi Udara UberAir.

REPUBLIKA.CO.ID, KALIFORNIA -- Perusahaan transportasi Uber mengumumkan mereka telah mencapai kesepakatan dengan Badan Antariksa AS (NASA) untuk mengembangkan sistem untuk mengelola penerbangan dengan ketinggian rendah. Siaran pers yang diterima Independent, Kamis (9/11) menyebutkan, visi perusahaan untuk memungkinkan pelanggan di masa depan hanya menekan tombol dan mendapatkan penerbangan berkecepatan tinggi di dalam dan di sekitar kota-kota.

Mereka berharap bisa memulai uji pada tahun 2020 dan memiliki industri pengangkutan udara, terutama untuk Olimpiade 2028 di Los Angeles. ''Teknologi akan memungkinkan warga LA untuk benar-benar terbang melewati lalu lintas yang buruk secara historis di kota,'' ucap Chief Product Officer Uber Jeff Holden.

Uber telah bekerja untuk beberapa waktu dalam transportasi udara. Sebelumnya, Uber juga telah mengumumkan bermitra dengan perusahaan kedirgantaraan swasta dalam mengejar tujuan tersebut. Namun, imprimatur (pernyataan yang mengesahkan persetujuan atau dukungan) pemerintah federal, melalui kesepakatan dengan NASA, menawarkan salah satu sinyal terkuat bahwa kendaraan Uber yang terbang merupakan kemungkinan konkret.

Dalam serangkaian tweet, Uber menyatakan bahwa ridesharing di udara lebih dekat dari perkiraan siapapun. Mereka juga merilis sebuah iklan di mana seorang wanita melangkah ke luar negeri dengan pesawat kecil setelah memindai teleponnya.

Seorang juru bicara NASA mengkonfirmasi, telah menandatangani sebuah kesepakatan dengan Uber pada bulan Januari. Namun menekankan bahwa NASA tidak membangun mobil terbang dan tetap independen dari Uber. ''NASA memiliki pengetahuan dan keahlian untuk membantu industri ini, membuka keamanan pasar baru ini dan dengan efisien, agensi tersebut tidak mengembangkan mobil terbang atau perangkat lunak untuk Uber atau perusahaan lain,'' kata juru bicara NASA, JD Harrington dalam sebuah email.