Tuesday, 7 Ramadhan 1439 / 22 May 2018

Tuesday, 7 Ramadhan 1439 / 22 May 2018

Desktop Telegram Menjadi Target Malware Cryptocurrency

Rabu 14 February 2018 18:09 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Winda Destiana Putri

Logo Aplikasi Telegram

Logo Aplikasi Telegram

Foto: Youtube
Perangkat lunak jahat ini digunakan untuk menargetkan pengguna Rusia sejak Maret 2017

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah malware yang tidak terdeteksi dilaporkan oleh perusahaan keamanan Rusia, Kaspersky Lab, menyerang pengguna versi desktop dari aplikasi perpesanan Telegram. Penemuan ini diumumkan oleh Kaspersky pada Selasa (13/2).

Perangkat lunak jahat ini digunakan untuk menargetkan pengguna Rusia sejak Maret 2017. Perangkat ini dirancang untuk mengelabui pengguna perangkat lunak versi desktop Telegram agar penggunanya mendaftarkan akun mereka kepada penambang cryptocurrency seperti Monero dan Zcash.

Telegram sendiri menempati urutan keenam sebagai aplikasi perpesanan ponsel terpopuler di dunia dan diperkirakan mencapai 200 juta pengguna pada kuartal pertama tahun 2018 menurut sebuah pernyataan dari perusahaan tersebut. Yang menjadi target malware hanyalah pengguna versi desktop.

Malware itu akan mengeksplorasi fitur yang memungkinkan perangkat lunaknya dapat mengenali teks bahasa arab dan Ibrani yang dibaca dari kanan ke kiri. Dengan menggunakan karakter tersembunyi pada fitur yang membalik urutan karakter, penyerang bisa mengganti nama file dan memicu pemasangan malware. Kaspersky lalu menyebutnya perangkat lunak berbahaya ini hanya ditemukan di Rusia.

Kaspersky lalu mengatakan petunjuk yang ditemukan dalam kode tersebut mengindikasikan adanya koneksi ke penjahat siber Rusia. Dikatakan bahwa rentetan aplikasi pesan seperti itu bukan hal aneh bagi Telegram, dan hal yang sama pernah terjadi pada bulan lalu ada pencuri yang mampu meretas pesan Whatsapp. Kaspersky sendiri telah melaporkan kerentanan tersebut pada Telegram di bulan Oktober dan tampaknya masalah tersebut telah diperbaiki.

Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di saluran milik Telegram, perusahaan tersebut mengatakan bahwa serangan tersebut adalah bentuk rekayasa sosial yang hanya berhasil jika pengguna berhasil ditipu dan mengunduh sebuah file gambar. Dan masalah tersebut telah diperbaiki pada bulan November, dilansir dari Gadgets 360.

"Hal ini bukanlah masalah serius bagi pengguna versi desktop Telegram. Tidak ada yang bisa mngendalikan komputer atau Telegram anda dari jarak jauh kecuali Anda membuka sebuah file jahat," tulis Telegram dalam pernyataan tersebut.

Telegram sendiri sedang mempersiapkan penawaran awal koin terbesar dalam penjualan token pribadi. Koin ini bisa diperdagangkan sebagai mata uang alernatif yang mirip dengan Bitcoin atau Ethereal yaitu sebuah proposal investasi yang ditunjukkan oleh Reuters. Penawaran tersebut bisa menghasilkan hingga Rp 27 triliun.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA