Senin , 08 January 2018, 14:42 WIB

Galanggo, Aplikasi Filantropi dan Penggalangan Relawan

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Dwi Murdaningsih
republika/wahyu suryana
 Pengenalan dilakukan CEO Galanggo.org, Muhamad Taufiq Luqman, Senin (8/1).
Pengenalan dilakukan CEO Galanggo.org, Muhamad Taufiq Luqman, Senin (8/1).

REPUBLIKA.CO.ID,  SLEMAN --Mahasiswa S2 Universitas Gadjah Mada Muhammad Luqman Taufiq membuat aplikasi digital untuk penggalangan relawan bernama Galanggo.org. Galanggo.org merupakan start-up digital yang bergerak dalam kegiatan filantropi dan kerelawanan di bawah inkubasi Dit PUI Universitas Gadjah Mada. Ide pembuatannya muncul sejak 2014 melalui program Innovative Academy.

CEO Galanggo.org, Muhammad Luqman Taufiq mengungkapkan, program ini sempat mengalami vakum dan baru dikejar kembali pada 2016 akhir. Kini, Galanggo.org fokus ke dua fitur utama, yaitu Galang Dana dan Galang Relawan.

Melalui konsep crowfunding dan crowdhelping, ia menekankan komitmen Galanggo untuk tidak hanya jadi situs galang dana. Namun, turut memberikan ruang informasi untuk segala kalangan yang tertarik berpartisipasi ke berbagai kegiatan sosial dalam galang relawan.

"Kita akan terus gerakan Galanggo baik secara offline maupun online," kata Luqman saat ditemui di Kampus UGM, Senin (8/1).

Ia menerangkan, kedua fitur fokus kepada empat aspek kebutuhan kemanusiaan yaitu penanggulangan bencana, pendidikan, disabilitas dan kesehatan. Karenanya, walau fokusnya ada di kemanusiaan, dan tidak sekadar bencana alam.

Untuk filantropi, Luqman menjelaskan, donasi yang diberikan tidak hanya berbentuk uang, melainkan barang. Itu semua tergantung proyek-proyek yang dikerjakan relawan yang tentu melalui proses seleksi dan verifikasi terlebih dulu.

Bahkan, tidak sedikit proyek-proyek kemanusiaan yang datang membutuhkan relawan saja, dan harus ditangani Galanggo sendiri. Karenanya, fitur Galang Relawan jadi salah satu opsi yang dapat menjawab tantangan kebutuhan tersebut.

"Jadi, bencana alam memang prioritas, tapi tidak cuma itu, kita fokus kepada kemanusiaan," ujar S2 Pariwisata Universitas Gadjah Mada tersebut.

Hal ini berlaku pula dalam penanganan-penanganan kesehatan. Karenanya, walau baru aktif kembali selama setidaknya satu tahun terakhir, cukup banyak proyek-proyek kemanusiaan yang sudah dikerjakan Galanggo.

Untuk disabilitas, ia menegaskan, Galanggo tidak sekadar memberikan bantuan lalu pergi begitu saja. Menurut Luqman, Galanggo memberikan pula pendampingan agar orang-orang yang menjadi target dapat memiliki usaha mandiri.

"Karenanya, Galanggo ada divisi keberlanjutan, dan kalau ada yang meminta bantuan itu kita survei dulu, kita seleksi," kata Luqman.